Lumpy Space Princess - Adventure Time

Sabtu, 04 Mei 2013

Ketika Umur Membuat Kita Buta

Posted by Unknown at 05.01 0 comments

Ketika Umur Membuat Kita Buta

baca-alquran-di-said-naum_554_l

Saat itu semua murid duduk disebelah masjid, memegangi kitab suci disetiap sisi badan dan perlahan membukanya. Aku melihat dan mendengar guruku melantunkan sebuah ayat dengan indahnya, aku takjub beserta kagum seakan-akan aku akan diangkat ke surga, nyanyian itu menenangkan hatiku, tidak pernah kudengar sesuatu seindah ayat Al-Qur’an yang dilantunkan oleh seorang hafiz.
Guruku menerangkan, “Kalau kita berbuat baik kepada Allah S.W.T, maka ia akan mengangkat kita kesurga paling tinggi” Ia berhenti sejenak, menatap aku beserta murid-murid lain yang memeprhatikannya dengan saksama, “Ada yang mau masuk surga?” tanyanya, semua murid, termasuk aku, tunjuk tangan dan penuh semangat untuk melakukan hal-hal yang baik.
Aku juga ingat, ketika guruku bertanya sesuatu didepan kelas: “Apa yang kalian inginkan ketika kalian besar nanti”
Semua murid ditanyakan dan dengan jujur dan berani mereka menjawab. “Aku mau menjadi pilot!” jawab seorang murid laki-laki, “Aku mau jadi dokter!” “Aku mau jadi arsitek” “Aku mau jadi guru”, dan tiba giliranku, aku tersenyum malu, “Aku mau jadi dokter” kataku pelan, walau banyak orang yang menjawab sama.
Ketika itu juga, guruku mengadakan lomba kecil-kecilan ‘siapa cepat dia dapat’, jadi caranya guru kita akan memberi sebuah soal matematika dan murid yang paling cepat angkat tangan ia akan mendapatkan poin, dan yang mendapatkan poin tertinggi mendapatkan sebuah bintang. Tentunya seluruh murid ingin sekali mendapatkan bintang, walau hanya dibuat dari kertas biasa. Seluruhnya berusaha untuk mengangkat tangan paling cepat, aku juga begitu walau tidak menang.
Dan sekarang aku mengetik masa lalu yang hanya menjadi angin semata, ketika kita beranjak dewasa, kita terkadang lupa akan tuhan: banyak yang melakukan maksiat dan banyak yang tidak melakukan apa yang tuhan kita perintahkan. Apakah semakin dewasa berarti kita semakin bijak? Jika fenomena ini dapat dipatahkan dengan keadaan sekeliling, bagaimana dengan menjadi anak kecil? Mereka sangat ingin menggapai surga sedangkan orang dewasa sudah buta akan dunia dan isinya.






capek-belajar


Juga ketika aku duduk di bangku SMP, guruku menanyakan hal yang sama ketika aku SD: “Apa yang kalian ingin lakukan ketika kalian sudah besar?”, guruku menunjuk dari murid ke murid, kebanyakan mereka diam atau menggeleng-gelengkan kepala, mereka bilang mereka tidak tahu tujuan hidup. Sungguh aku terpana, jika tidak tahu tujuan hidup, apa yang mereka mau di masa depan? Hanya mengikuti arus saja tidak cukup, mempunyai titik pacu dari sekarang akan membuat kita lebih semangat dan membentuk cikal bakal orang sukses di lain hari. Bahkan orang yang menjawab akan ditertawai atau dicemoh habis-habisan, apakah mereka sadar mana yang benar mana yang tidak?


malu

Apakah tidak ingat ketika masih kecil, kita telah memilih tujuan hidup dan dari sekitar kita mendapatkan inspirasi untuk menjadi orang yang berguna bagi masyarakat? Atau hanya sekadar malu?
Juga pada kasus yang sama, ketika guru mengadakan lomba disekolah, yang lain sangat takut untuk maju, aku bingung, ada apa dengan masyarakat kita ketika dewasa? Dan kita, yang sudah berpijak pada umur lebih besar, dilanda dilema ‘malu’ dan ‘malas’.
Ketika kita disuruh maju kedepan, kita, orang dewasa malu, tetapi kita seorang anak kecil maju, ia akan mengambil tantangan itu.
Dari sini kita juga dapat melihat sebuah paradoks dari pikiran masyarakat: semakin tua semakin bijak. Belajarlah dari anak kecil, dan darisitulah beberapa sifat yang terpadamkan oleh umur dapat muncul lagi.

Matahari yang Tenggelam

Posted by Unknown at 04.53 0 comments

Matahari yang Tenggelam


Aku berjalan terseok-seok di pantai sambil menatap cakrawala biru yang membentang tak terbatas. Langit dihiasi oleh kapas-kapas awan. Pasir-pasir dibawah kakiku terasa sangat kasar, sangking kasarnya mereka seperti sengaja membuatku sakit.
Lalu mataku bergerak kesamping, menatap ombak yang berguling-guling dan tertawa-tawa riangnya. Iri aku kepada mereka! Kenapa mereka begitu senang sedangkan aku tidak dapat menikmati pantai ini? Aku menceburkan kakiku ke ombak-ombak yang terus berguling tanpa henti, aku dapat merasakn lembutnya ombak yang membalut kakiku dan sejuknya sepoi-sepoi yang membisik telingaku. Tetapi tetap saja, aku merasa kesepian.
Aku lalu melihat matahari didepanku, berdiri diatas para laut yang berdansa-ria, tetapi ia sama sepertiku: sendiri. “Matahari!” panggilku, “Kau juga menyendiri seperti aku, apakah kau tidak suka dengan makhluk lain yang terlihat gembira dan tidak bermuram durja?”
Matahari memalingkan mukanya ke aku, matanya sayu tetapi kuat, wajahnya cerah tetapi hangat, ia mempunyai senyuman yang membuat hatiku berlari cepat  berdegup keras, aku takjub kepadanya, auranya sangat kuat sehingga mengenai lingkup hatiku. “Apa kau iri dengan mereka?” tanyanya, suaranya dalam dan dangkal, bahkan laut pun tak dapat mengalahi kedangkalanya
Aku bertekuk lutut, mengernyitkan dahiku sehingga kerutannya terlukis jelas dan mendalam, “Aku selalu bingung” kataku kesal seiring angin berhenti meniup diri dan mulai ikut mendengarkanku, ombak mulai berhenti berguling, “Mengapa makhluk lain dapat merasakan kegembiraan? Sedangkan aku disini menyendiri dengan sedihnya? Aku ingin semua makhluk lain merasakan kekesalanku, mereka patut mendapatkan itu!”
Matahari menekuk senyumnya, “Kau telah termakan oleh dirimu sendiri” Ia membalas, “Dengki telah bersarang dalam hatimu, sadarlah duhai manusia! dunia ini dipenuhi dengan banyak kegembiraan dan kehangatan sedangkan kau hanya melihat dengan satu mata, bukalah semuanya! Jangan membiarkan dengki itu membuatmu sedih, karena itulah penyebab sebenarnya”
Aku terperangah, mulutku ternganga sehingga isinya dapat terlihat, tubuhku bergetar sehingga membuatku bertekuk lutut dengan lemasnya, aku menunduk dan merasakan kebenaran matahari, aku segera sadar bahwa selama ini ada pun yang dapat menemani.
“Kau benar matahari” Aku berkata dengan sungguh lemasnya sehabis sadar akan kebodohanku sendiri, “Sepertinya aku tidak melihat semuanya”, Ah…sungguh bijak sang matahari itu! Selama ini ada dia disampingku tetapi aku saja yang melupakannya. Kehangatan hatinya sungguh terpancar, ingin aku bersama matahari selamanya.
Aku beranjak kembali dan berterima kasih kepada matahari, ia membalasnya dengan tersenyum. Selanjutnya, aku berjalan menatapi langit didepanku, lalu duduk disebuah batu karang yang keras, sampai pori-porinya terasa sakit dikulitku.
Tetapi langit bukan biru lagi, ia telah berubah menjadi jingga-kuning, dan aku melihat matahari tenggelam oleh laut seperti termakan olehnya. Pertama ia nampak dan lama-lama ia menghilang, langit pun berganti menjadi biru gelap dihiasi kerlap-kerlip bintang yang jumlahnya tak terhingga. Datanglah bulan, ia seperti matahari hanya sinarnya lebih lemah dan mukanya tampak sangat muram dan sembab.
Aku duduk di pantai sambil menunggu matahari kembali datang, kasarnya pasir tidak menyakitiku, gembiranya laut tidak membuatku dengki, sedangkan didepanku hanya bulan…
Aku tidak menyukai bulan, ia selalu tampak sedih dan selalu mengeluh, beda dengan matahari. “Oh, coba aku tidak mempunyai bolong-bolong diwajahku, mungkin makhluk didunia akan lebih menghormatiku” Ia berkata, lalu melihatku dengan matanya yang sendu dan sembab, “Kau, manusia” Ia berbicara kepadaku, “Kenapa kau duduk saja? malam ini adalah waktu istirahat, tidurlah”
“Aku ingin menunggu matahari” jawabku jujur. Wajah bulan semakin sayu dan sendu, “Lantang sekali kau” Ia membalas dengan sedikit amarah, “Ya sudah kalau begitu, jika kau lebih membutuhkan siang daripada malam, itu urusanmu”, lalu bulan memalingkan wajah dan terus menggerutu layaknya air yang tidak pernah berhenti mengalir.
Langit perlahan kembali menjadi jingga-kuning dan bulan perlahan menghilang ditelan cakrawala, dari laut, munculah matahari yang perlahan naik keatas horizon, wajahnya tampak sama: bijak dan tenang.Aku menatapnya dengan gembira, wajahku yang layu mulai cerah, dan mulutku mulai mengembang keatas menandakan kebahagiaan tiada tara.”Matahari!” panggilku, “Kemana saja kau ini? Aku telah menunggumu!”.
Matahari menoleh, lalu tersenyum hangat seperti biasa, “Bukan aku yang pergi tetapi dunia yang berputar” Ia menjawab, lalu menjelaskan bahwa dunia ini mengelilingi matahari diikuti dengan bulan sebagai peneman, “Setiap hari makhluk membutuhkan tidur nyenyak dan istirahat, dan saat itu kita sebut malam”
“Aku mau kau terus menyinari dunia! tidak seperti bulan yang terus mengeluh!” pintaku
“Tidak bisa, jangan menjadi egois manusia, kau juga butuh istirahat seperti makhluk lain, jika aku terus menerangi dunia maka semuanya tidak akan berhenti bekerja” Jelasnya
Harapanku pupuh, rasanya seperti ingin menangis ke pangkuan ibu, hatiku lesu, “Tetapi bagaimana caranya agar kita tetap bersama?” tanyaku
“Jawabannya berada di hatimu manusia, tidak perlu bertemu untuk bersama selamanya” Matahari tersenyum. Aku mengangguk lalu membalas senyumannya, ah…belajar dari dia memang tidak sia-sia, dan haripun ikut tersenyum dengan kita.

Ini ujian nak, bersabarlah :)

Posted by Unknown at 04.29 0 comments







Ayah aku Capek.......

Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran… “Ayah, ayah” kata sang anak…

“Ada apa?” tanya sang ayah…..

“aku capek, sangat capek … aku capek karena aku belajar mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! aku capek. sangat capek…

aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! … aku capel, sangat capek …

aku cape karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus! …

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…

aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman teman ku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…

aku capek ayah, aku capek menahan diri…aku ingin seperti mereka…mereka terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis…

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu”,

lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh

”Ayah, mau kemana kita?? aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri, badanku dikelilingi oleh serangga, berjalan pun susah krn ada banyak ilalang… aku benci jalan ini ayah” … sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…

“Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!”

Sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

”Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal tempat ini begitu indah…?”

”Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”

”Itu karena orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu”

”Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”

”Nah, akhirnya kau mengerti”

”Mengerti apa? aku tidak mengerti”

”Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga… dan akhirnya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku”

”Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”

”Aku tau, oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri…

seorang pemuda muslim yang kuat, yang tetap tabah dan istiqomah karena ia tahu ada Allah di sampingnya… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau akhirnya kan?”

”Ya ayah, aku tau.. aku akan dapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini …

sekarang aku mengerti … terima kasih ayah , aku akan tegar saat yang lain terlempar ”

Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

Sinetron: Yang Dibenci, Yang Dinanti

Posted by Unknown at 04.25 0 comments

Sinetron: Yang Dibenci, Yang Dinanti

Hari gini yang punya TV pasti nggak asing sama tontonan yang namanya sinetron. Sinema elektronik atawa sinetron –istilah ini diperkenalkan pertama kali oleh Bapak Soemardjono, salah satu pendiri Institut Kesenian Jakarta (IKJ)-udah jadi menu sehari-hari yang buat sebagian orang kudu dinikmati. Mau yang sinetron sekali tayang habis ala FTV atau yang stripping beratus episode ala Cinta Fitri ada penggemarnya sendiri. Atau sinetron yang diimpor dari luar Indonesia kayak telenovela yang asalnya dari Amerika Latin atau soap opera alias opera sabun yang lahir pertama kali di Amerika, plus drama seri Asia yang diisi akting para artis Korea, Taiwan, dan Jepang, semua makin bikin warna sinetron di Indonesia beragam, banyak pilihan.
Banyak yang suka sama sinetron karena cerita sinetron yang bikin orang penasaran. Tiap episode berakhir dengan cerita yang dibuat ngegantung, bikin orang geregetan dan “nagih” untuk besok nonton lagi. Plus juga pemain-pemainnya yang cantik-cantik en ganteng bikin tangan makin nggak sanggup pencet remote pindah channel.
Tapi ternyata nggak semua masyarakat merespon keberadaan sinetron ini dengan suka. Ada juga sebagian masyarakat yang memilih untuk nggak nonton sinetron apalagi yang produk dalam negeri. Bahkan ada yang sampai bikin gerakan “Anti Sinetron”!
Kalau dicek n crosscek ketidaksukaan sebagian masyarakat terhadap sinetron wajar-wajar aja. Karena produk sinetron yang ada kebanyakan emang nggak bikin orang tambah pinter ngeliat hidupnya dan hidup orang lain. Nggak tambah bijak dan lihai untuk bisa ngejadiin diri cari solusi untuk permasalahan hidup yang sedang dihadapi.
Loh kan sinetron emang bukan media pendidikan kan? Sinetron kan emang peruntukkannya cuma untuk menghibur. Gitu sih ngelesnya. Iya sih. Sinetron emang dibikin untuk menghibur, tapi kan bukan berarti melupakan unsur pendidikan. Contohnya –ini contoh yang sering banget dipake, karena selain yang ini nggak ada lagi yang lain hehe..- sinetron Kiamat Sudah Dekat, Lorong Waktu, atau Para Pencari Tuhan. Lewat sinetron-sinetron tersebut banyak cerita keseharian ditampilkan plus bagaimana contoh penyelesaiannya sesuai dengan syariat Islam. Orang nggak ngerasa diguruin, nggak ngerasa diceramahin, tapi bisa dengan baik bercermin.
Sayangnya nggak banyak sinetron yang semacam itu. Ada juga sih sinetron yang mencoba tampil islami, apalagi seperti pada Ramadhan kemarin. Tapi karena global idenya masih yang kebanyakan: perseteruan karena warisan, harta, perempuan, dan mistis hantu-hantuan, walhasil nama Allah, ayat-ayat Allah yang digunakan di tiap adegan jadi tampak garing. Nggak ada “ruh” yang ditampilkan, bahkan bertentangan dengan syariat Islam.
Sinetron dihujat, rating tetap nanjak?
Nah, ini fenomena lain dari sinetron di tanah air. Banyak kejadian sinetron yang isinya dinilai banyak pihak nggak mutu tapi ratingnya tinggi. Kesimpulannya, tontonan yang nggak mutu juga banyak penontonnya. Berarti penontonnya juga banyak yang nggak mutu dong. Bisa jadi. Bener nggak tuh? Harusnya bener kan? Glodak!
Tapi, ada temuan nih yang bilang kalo rating bisa juga direkayasa. Rating yang jadi “tuhan” di jagad sinetron ternyata nggak melulu presentasi dari pilihan penonton. Apalagi mengingat lembaga perating tayangan televisi di Indonesia itu hanya diisi oleh AC-Nielsen yang asal Amerika. Posisi monopoli bisa memungkinkan segala praktek di luar kelaziman karena nggak ada yang bisa kontrol.
Jadi nggak seutuhnya bener kalo sinetron booming karena mengikuti keinginan pasar, keinginan masyarakat. Jangan-jangan masyarakat lah yang dikondisikan untuk mau nerima sinetron dengan segala jenisnya itu. Sama seperti dulu masyarakat yang semula nggak peduli sama urusan gosip via layar kaca, sekarang malah ketagihan infotaintment.
Nah lho! Kok bisa? Coba deh kita sama-sama teliti tulisan Steven Sterk yang merupakan nama samaran dari karyawan yang sudah bekerja 6 tahun di AC Nielsen. Teliti sebelum menyimpulkan, dan teliti dengan menghubungkannya dengan fakta yang ada di hadapan. Siap? Oke, ini dia.
Tujuh fakta di balik AC-Nielsen:
Pertama, AC Nielsen Indonesia tidak memiliki tenaga handal profesional yang direkrut dari luar negeri demi menjaga kerahasiaan sistem mereka, seperti yang selalu diklaimnya. AC Nielsen Indonesia yang sekarang banyak ditangani oleh para pekerja Indonesia, yang sebagian besar dari mereka adalah fresh graduated (sebagian besar adalah lulusan statistik dan matematika). Sehingga kerahasiaan sistem mereka sebenarnya tidak benar-benar seperti benda suci yang selalu mereka jaga kerahasiaannya. Mereka banyak merekrut tenaga dari dalam negeri dengan anggapan bahwa tenaga dari Indonesia adalah jauh lebih murah dibanding mempekerjakan tenaga dari negara mereka yang sudah berpengalaman. Bahkan Hampir setengah dari tenaga lapangan AC Nielsen adalah para mahasiswa yang belum lulus dengan hitungan tenaga magang. Sehingga dengan tujuan efisiensi pada sumber daya manusia, mereka bisa lebih banyak mendapat keuntungan.
Kedua, dengan banyak merekrut tenaga kerja baru lulus kuliah dan mahasiswa magang, AC Nielsen banyak memberikan toleransi kesalahan data. Terutama data-data yang ada di lapangan. Sering sekali saya alami penyimpangan data terjadi hanya karena keteledoran SDM semata-mata.
Ketiga, untuk pemilihan demografis responden rating televisi cenderung dilakukan dengan asal-asalan. Dan tidak diusahakan pemerataan pada sebaran datanya. Misalnya, untuk mengetahui berapa kecendrungan pemirsa untuk tayangan televisi A, mesti diambil jumlah responden yang seimbang misalnya untuk kelas ekonomi atas 33,3%, kelas ekonomi menengah 33,3 %, untuk kelas ekonomi bawah 33,3%, sehingga total 100%. Dengan model seperti ini, diharapkan angka rating yg didapat adalah lebih obyektif. Namun pada prakteknya, AC Nielsen Indonesia banyak mengambil data responden sebagian besar dari kelas ekonomi rendah. Profil mereka sebagian besar adalah: ekonomi kelas rendah, berpendidikan rendah, tidak mempunyai pekerjaan, bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pedagang kaki lima, karyawan toko, buruh pabrik, dan lain-lain. Hal ini menjelaskan mengapa sebagian besar tayangan televisi nasional yang memiliki rating tinggi justru yang memiliki cita rasa rendah dan apresiasi seni yang rendah. Seperti tayangan gosip artis, tayangan mistik, film-film hantu, dan sinetron-sinetron picisan.
Tayangan-tayangan televisi yang justru bersifat mendidik dan mencerdaskan akan selalu mendapat nilai rating yang rendah dari AC Nielsen. Kebijakan ini diambil AC Nielsen karena ia tidak mau membayar uang imbalan untuk respondennya. Sehingga responden yang diambil adalah kebanyakan dari kaum ekonomi bawah agar bisa dibayar murah.
Keempat,untuk pemilihan responden secara geografis juga dilakukan dengan tidak merata. Sebaran data yang diambilnya tidak pernah dilakukan dengan distribusi yang sama rata secara nasional, melainkan sekitar lebih dari 60% datanya hanya terkumpul dari Jakarta saja.
Kelima, sebagai imbalan (honor), responden rating hanya mendapat souvernir senilai Rp 30,000 s/d Rp 50,000,-saja per bulannya. Sehingga responden cenderung ogah-ogahan untuk menjaga integritasnya.
Keenam, idealnya sebuah keluarga atau sebuah rumah yang menjadi responden televisi menjadi reponden selama 6 bulan saja atau maksimal selama 1 tahun. Setelah itu AC Nielsen harus mencari responden baru. Secara statistik hal itu perlu dilakukan demi menjaga obyektivitas data. Agar secara psikologis, mood responden tidak mempengaruhi data selanjutnya. Namun pada kenyataannya, seorang responden kebanyakan bisa menjadi responden selama 7 TAHUN LEBIH. Untuk hal ini adalah murni dikarenakan kemalasan dari manajemen AC Nielsen untuk melakukan pemeriksaan ke lapangan.
Ketujuh, para responden rating AC Nielsen sama sekali tidak mempunyai integritas. Dengan demikian, beberapa oknum televisi beserta oknum AC Nielsen dapat memberikan “pesanan” kepada ratusan responden sekaligus agar “memanteng” program televisi tertentu, agar hitungan rating program tersebut menjadi tinggi. Biasanya jumlah yang diajak adalah sekitar 100 s/d 700 orang dari total 3,500 responden. dengan 700 orang berarti program tersebut diharapkan sudah memegang rating 1/5 dari total rating. Biasanya tiap satu kali “memanteng” (demikian sebutannya) tiap responden meminta bayaran Rp 100,000,-. Sehingga dengan 700 orang x Rp 100,000,-, oknum pihak televisi tersebut hanya mengeluarkan uang Rp 70,000,000 saja per satu kali “manteng”. Dengan begitu angka rating dapat dimanipulasi dengan mengeluarkan biaya yang relatif murah sebenarnya bagi para stasiun televisi.
Bro en Sis, saya dapetin data ini dari sebuah blog. Silakan cek di: (http://illegalblogging.wordpress.com/2009/06/05/%E2%96%A0-kenapa-sinetron-picisan-bisa-masuk-prime-time-rating-palsu-ac-nielsen/)
Nah gimana menurut kamu setelah meneliti tulisan Steven Sterk di atas? Nyium-nyium bau nggak sedap “rekayasa” atau “konspirasi” kah? Hehehe … lebay ya pake bawa-bawa istilah konspirasi? Apapun istilahnya, fakta di lapang sinetron yang isinya nggak jelas tapi ratingnya teratas emang nggak jauh dari apa yang dibeberkan oleh Steven. Penyebabnya? Ya karena “ada main mata” antara pihak TV atau PH dengan AC Nielsen. Rahasia umum yang masih dianggap tabu oleh sebagian orang untuk dibilang bukan rahasia lagi.
Behind the scene
Sinetron bisa ada di layar kaca pastinya dengan proses. Proses berlapis yang melibatkan banyak pihak. Kalau bicara soal konten cerita ada tiga pihak yang punya peran penting yaitu produser, sutradara, dan penulis skenario, selain TV sebagai fasilitator.
Produser punya wewenang yang sangat besar untuk nentuin mana cerita yang lolos, mana yang harus direvisi dulu, mana yang harus langsung masuk tong sampah. Penulis skenario jarang banget punya bargaining position untuk menyampaikan argumentasi. Ya iyalah, karena produserlah yang punya fulus. Apalagi TV kadang punya permintaan-permintaan khusus ke PH (produser) demi upaya penyelamatan rating. Ceritanya harus ditambah porsi Si Tokoh X, dikurangin di bagian ini, yang bagian itu dihilangin aja. Begini-begitu. Begitu-begini. Jadi, nggak ada tayangan sinetron yang asli 100% eksekusi ide dari penulis.
Makanya jadi berat untuk para penulis idealis untuk bisa tetap mempertahan idealismenya, yang nggak pengen keyboard-nya dinodai pembodohan masyarakat. Semua akhirnya runtuh di hadapan kapital alias uang. Hidup kan butuh duit. Keluarga mau dikasih makan apa kalau nggak ada job nulis. Muncul dilema.
Kalau yang masih bertahan, pilihannya cuma dua. Mereka harus berusaha lebih keras lagi, doa lebih khusyuk lagi untuk bisa nyantol sama produser dan sutradara yang punya visi dan misi idealisme yang sama, dan itu jaraaa…ng banget. Atau banting stir nulis yang lain yang dinilai itu bisa menyelamatkan misinya. Ya gitulah kapitalisme bikin keinginan hidup yang lempeng jadi susah banget.
Semua kudu bertanggung jawab
Masalah mutu tayangan TV di Indonesia termasuk sinetron nggak cuma jadi tanggung jawab satu pihak. Pemerintah, pengusaha televisi, PH, juga masyarakat penonton punya porsi tanggung jawab masing-masing.
Bagi pengusaha televisi dan PH udah saatnya menginvestasikan modal yang dimiliki untuk ikut mencerdaskan bangsa. Cerdas yang nggak hanya ukuran duniawi, materi, tapi juga ukhrowi. Cerdas menjalani hidup sebagai makhluk Allah Swt.: mampu mengurai permasalahan hidup menggunakan penuntun yang sudah dianugerahkan Allah yaitu al-Quran dan as-Sunnah dan mampu menghadirkan solusi itu buat orang lain juga.
Bagi masyarakat penonton, punya tanggung jawab untuk saling mengingatkan demi saling meningkatkan kualitas diri. Kualitas sejati sebagai hamba Allah yang peduli, bervisi kebangkitan dan bermisi perjuangan bersandar keimanan, seperti yang selama ini diupayakan oleh buletin kesayangan kamu, gaulislam ini.
Tanggung jawab terbesar ada pada pemerintah sebagai pihak yang diamanahi untuk mengayomi dan membina masyarakat. Sabda Rasulullah saw: “Imam adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad)
Sudah saatnya para pemimpin negeri ini mengambil standar yang mapan yang benar-salah, hitam-putihnya jelas dan terang yaitu syariat Islam. Sehingga tayangan pun bisa disensor atau dinilai dengan benar-salah yang juga terang. Menutup kemungkinan tumpulnya gunting sensor. Karena yang jadi korban nantinya juga anak bangsa sendiri. Jika anak bangsa rusak, negeri ini pun akan terpuruk. Dan, pastinya bukan itu yang kita semua mau.

Mau sukses? Temukan kata kuncimu!

Posted by Unknown at 04.12 0 comments






Sudah lama s.e.k.a.l.i. gak ngeblooooggg..... Baru aja kemaren disentil sama tweetnya mbah Jamil Azzaini tentang orang yang punya blog tapi sok sibuk (yang gak jelas banget) en ngelupain blognya.. Jleb banget dah rasanya. Soalnya saya banget tuh.. :p

Oke, kalem... say, "Alhamdulillah"... say hay..
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.. :)

By the way, sebenernya buku ini udah lama banget saya baca. Tapi baru kelarnya barusan aja. Pantes aja gak ketemu-ketemu kunci gimana buat sukses. Ternyata emang buku itu mesti dibaca dulu sampe habis ya. hehehe. Kelewatan -__-..

Bab ini ada di dalam bukunya Ippho Santosa "7 Keajaiban Rezeki", dan dari Bab ini juga ternyata saya menemukan kata kunci kesuksesan yang selama ini saya cari. cieh..
Inilah Bab tentang Pembeda Abadi, sebelum tau tentang apa itu pembeda abadi, saya mau nanya dulu nih sama reader-reader luar biasa yang lagi baca ini. Kalo kita ingin menjadi seorang pemenang, apa biasanya hal yang harus kita lakukan? tentunya dengan cara meningkatkan kelebihan dan memperbaiki kelemahan bukan?
Dan menurut kita serta pada umumnya, untuk sukses itu dengan cara menitikberatkan pada keduanya, iya kan?
Emang bener banget, tapi tunggu dulu, kita sebagai manusia yang sempurna tentunya juga memiliki kemampuan yang terbatas. Kita pun dituntut untuk memilih, menjalankan yang satu dan merelakan yang lain. Maka harus dipilih salah satu dari keduanya agar kesuksesan kita sampai lebih cepat. Kira-kira yang mana, meningkatkan kelebihan atau memperbaiki kelemahan?
Saya lebih setuju pada pilihan pertama, yaitu meningkatkan kelebihan. Jadi diibaratkan begini,

* Katakanlah, kamu jagonya dibidang design grafis dan ternyata lemahnya pada bidang masak-memasak.
* Dengan mengasah kelebihanmu dibidang design grafis, maka efektivitas design grafis anda dapat terdongkrak, dari yang sebelumnya bernilai 7 menjadi 9.
* Dengan mengasah kelemahanmu dibidang masak-memasak, maka efektivitas memasak anda dapat terdongkrak, dari yang sebelumnya bernilai 5 menjadi 7.
* Oke, berdasarkan ilustrasi di atas, terus bagaimana pendapatmu?
Mau dengar komentar saya, atau sebenernya yang saya dapetin dari bukunya Ippho Santosa??hehe..! baiklah, baiklah..

Pilihan pertama ya jelas-jelas menguntungkan, dengan meningkatkan potensi dan kelebihan yang kita miliki, maka kita yang awalnya bernilai rata-rata, menjadi di atas rata-rata, bahkan dengan potensi kita tersebut yang bernilai 9, kita dapat menjadi jawara - tak terkalahkan oleh siapapun!
Lantas, bagaimana dengan pilihan kedua? dengan kemampuan di bawah rata-rata, maka dengan mendongkrak nilai 5 menjadi 7, kita pun menjadi orang rata-rata. Tentunya anda menjadi orang yang biasa-biasa saja dibidang memasak. Dan pastinya, akan ada banyak orang lainnya yang dapat mengalahkan anda!

Kalaupun anda memang "gak pandai" dalam hal memasak. Hal yang harus anda lakukan adalah menemukan mitra yang pandai memasak alias dapat menutupi kekurangan anda tersebut. Salah satu caranya, bagi kaum pria ya cari istri! hehe..

Menurut Ippho sih, memang telah banyak buktinya bahwa orang yang sukses dan telah melejitkan karirnya adalah orang yang berani meningkatakn potensi kelebihannya. Belum ada cerita yang berhasil karena memperbaiki kelemahan. Memperbaiki ya, memperbaiki, bukan kelemahan karena ia cacat fisik, justru kalo cacat fisik, kelemahannya itulah kelebihannya. 

Selain menghasilkan, potensi anda ini akan menjadi kebahagiaan bagi anda. Ini menjadi semacam panggilan jiwa - bukan panggilan kerja!

Karena menghasilkan dan menyenangkan, anda pun terus mendalami potensi anda tersebut, hingga akhirnya ini menjadi keunggulan khusus yang anda miliki. Inilah yang namanya Pembeda Abadi. 

Pembeda anda dengan yang lain. Hal yang merupakan keunggulan, kata kunci pada diri anda yang menjadikan anda berbeda. Banyak yang sudah memiliki hak paten karena bertahan pada persepsi masyarakat pada gelar yang melekat padanya, bukan gelar akademik, namun gelar yang didapatkan seseorang karena kemampuan yang dimilikinya. Misalnya anda terus-terusan membahas tentang entrepreneur, maka anda akan dijuluki sebagai, misal, Alim sang entrepreneur. 
Seperti Ippho Santosa --> pakar otak kanan
Andrie Wongso --> entrepreneur
Arifin Ilham --> Dzikir
Ust. Yusuf Mansur ---> Sedekah 
dan masih banyak yang lainnya.

Banyak sudah contoh orang-orang yang tahu akan potensi dirinya kemudain meningkatkannya. Menjadikannya persepsi yang berkembang luas di masyarakat kemudian melekat pada dirinya. Itulah yang akan menjadi pembeda antara anda dengan yang lain, yang mengantarkan anda pada kesuksesan yang luar biasa dan menjadi paten akan sebuah keberadaan tentang aktualisasi diri anda.

Lalu bagaimana dengan aku? aku sendiri sudah agak menemukan kata kunci diriku, selain kunci internal sebagai (pelajar), maka kata kunci kedua pada saya adalah anak manusia yang harus patuh dengan ayah ibunya. Inilah dua kata kunci yang akan berusaha aku lakukan, pertahankan dan saya lejitkan. Karena peranan inilah yang paling mulia bagi seorang wanita. But, you Have a dream! So, realize your dream as way as to give thanks to Your Rabbi for your beautifull life^^..

So, how about you? Mari, temukan kata kuncimu! Kata kunci yang menunjukkan bahwa engkau berbeda!

Tidak Ada Pacaran Islami

Posted by Unknown at 04.08 0 comments

Tidak Ada Pacaran Islami

Tidak Ada Pacaran Islami

Assalamu’alaikum Redaksi majalah Sakinah rahimakumullah… Ana Fulanah dari Pati. Ana minta nasihat… Bagaimana supaya dalam berpacaran, substansi pacaran itu bisa menjadi pacaran fii sabilillah dan diridhai oleh Allah ta’ala dan kedua Orang Tua…?
Fulanah, Pati

Jawab:
Wa ‘alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh.
Alhamdulillah, ‘alaa kulli haal. Baiklah, ana akan biarkan
Ukhti sendiri yang menjawab pertanyaan itu. Tapi sebelum pertanyaan itu dijawab, mari kita berdialog sedikit tentang beberapa hal yang bisa Ukhti jadikan bantuan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Pertama, definisi pacaran itu sendiri apa? Definisi pacaran itu mungkin termasuk definisi yang paling lentur, dinamis, dan cenderung plin-plan. Saat orang-orang tua kita dulu melarang anak-anak mereka pacaran, artinya duduk berduaan, bercengkerama, keluar berdua, lalu menonton. Itulah pacaran dalam definisi mereka saat itu. Kalau sebagian orang tua mengatakan kepada anaknya sekarang ini, “Jangan pacaran dulu, kamu masih kecil, lebih baik sekolah dulu..” Itu artinya, jangan membina hubungan serius sebagai sepasang kekasih. Boleh keluar, berjalan-jalan, bahkan bila perlu menonton berduaan atau ditemani yang lain, asalkan hubungannya tidak sampai pada kisah-kasih asyik masyuk, tidak membina hubungan serius yang menyita banyak perhatian, perasaan dan emosi, bahwa mereka akan menjadi suami istri kelak!!
Pada definisi kedua itulah sering muncul ungkapan, “saya sama dia hanya teman dekat aja kok.” Artinya, sekadar berduaan atau bahkan ke mana-mana berdua, belum cukup disebut sebagai implementasi dari pacaran. Harus ada nilai lebih dari hubungan dua insan berlainan jenis, baru disebut pacaran.
Di dunia yang sudah terlalu bebas, di negara-negara free sex, atau di lingkungan pergaulan muda-mudi yang tergiur budaya barat meski mereka hidup di negeri timur seperti Indonesia ini, definis pacaran menjadi semakin kabur. Hingga tahap saling berciuman saja belum bisa disebut pacaran. Just for sex, no more. Ini hanya hanya soal seks, tak lebih dari itu. Bahkan pada tahap yang sudah mengerikan, hingga terjadi perzinaan sekalipun tak bisa serta merta disebut pacaran. Makanya ada istilah one night stand, alias hubungan seks semalam saja. Hanya untuk seks, tak lebih. Wal ‘iyaadzu billaaah.
Dengan definisi-definisi pacaran yang seperti itu, dapatkan disebut sebuah pacaran itu islami? Dengan cara apa pacaran itu dapat diubah menjadi hubungan yang islami alias sesuai aturan Islam? Kita bisa jawab sendiri.
Sekarang, kita keluar dari definisi-definisi tersebut. Anggaplah bahwa pacaran itu adalah sebuah istilah yang bebas nilai. Tergantung yang melaksanakannya saja. Tapi, ketika semua definisi tersebut sudah bermuara pada satu titik: hubungan serius sebagai pra pernikahan, dapatkan sebagian dari makna definisi-definisi itu terabaikan begitu saja?
Kalau dimisalkan bisa, dan muncullah sebuah kesempatan pacaran bisa menjadi hal yang dibenarkan syariat karena dilakukan sesuai aturan syariat, bisakah kita menyebut istilah itu dengan pacaran? Seperti kita menyebut jihad sebagai pembantaian yang Islami, atau madu disebut sebagai Bir Surga misalnya, atau poligami sebagai perselingkuhan atau zina yang Islami misalnya?
Nabi –shollallohu ‘alaih wa sallam– sudah bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang meniru kelompok manusia tertentu, maka ia termasuk golongan mereka.”
Istilah pacaran sudah menjadi ciri khas budaya kaum kafir bukan? Umat islam hanya datang dan menirunya. Maka, apakah hubungan antara pria dan wanita yang dibenarkan syariat dapat dinamakan dengan nama yang menjadi sebutan dari budaya kafir yang penuh dengan maksiat itu? Mari dijawab sendiri secara hati-hati.
Baik…, mari kita keluar lebih jauh dari semua definisi itu, dengan menggunakan istilah pacaran secara mandiri, tanpa pengaruh definisi-definisi tersebut. Bagaimana kita mengubah pacaran menjadi fi sabilillah, yang akhirnya diridhai Allah dan diridhai orang tua?
Untuk dapat diridhai oleh orang tua tidaklah terlalu sulit. Asalkan pasangan kita disukai oleh orang tua, dan kita dianggap sudah layak berpacaran, semua pasti beres. Apalagi si pasangan sangat baik sikapnya terhadap orang tua, jalan akan semakin mulus. Yang menjadi masalah, tidak setiap yang diridhai oleh kedua orang tua, berarti diridhai oleh Allah!!
Orang tua ridha maka Allah ridha, orang tua marah maka Allah marah, itu tidak berlaku pada hukum. Perbuatan dosa tidak akan berubah menjadi pahala, meski orang tua menyukainya. Ibadah wajib, tak lantas berubah menjadi dosa kalau orang tua tidak menyukainya.
Kalau pertanyaannya: “Bagaimana pacaran bisa diridhai Allah?”
Pertama, ubah dulu istilah pacaran itu menjadi ta’aaruf, perkenalan, atau sejenisnya yang bersifat lebih umum. Karena saat disebut pacaran, berbagai atribut pacaran akan gampang meluncur menghiasinya.
Kedua, itu dilakukan murni untuk mengejar target menikah. Jadi tak boleh dilakukan bila belum ada niat menikah. Nabi n bersabda,
“Lihatlah terlebih dahulu (wanita) itu. Karena yang demikian itu lebih baik agar tercipta keharmonisan di antara kalian berdua.”
Dalam sabda lain, Nabi –shollallohu ‘alaih wa sallam– menegaskan, “Kalau seseorang bisa melihat pada diri wanita sesuatu yang bisa menggugahnya untuk menikahinya, lalukanlah…”
Jadi, perkenalan itu dengan tujuan untuk melihat, mengenali lebih jauh, dan mencari titik keselarasan secara fisik dan emosional, untuk bisa menjadi sepasang suami-istri. Dalam hal ini, maka proses perkenalan tak boleh terlalu lama, dan harus menghindari hal-hal yang diharamkan oleh Allah.
Adab Ta’aruf
Adapun adab-adab ta’aruf, sebagai berikut:
1. Menahan Pandangan
Allah berfirman,
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya …’” (an-Nur: 30-31)
Yakni, mata tak boleh jelalatan melihat calon pasangan atau bagian dari tubuhnya yang menggoda selera, atau memelototi wajahnya untuk mencari kenikmatan. Melihat diperbolehkan bila untuk memastikan kecocokan saja. Artinya, setelah segala sesuatu yang lain dianggap sudah saling cocok, melihat sebagai penentunya.
2. Menutup aurat
Allah berfirman,
“… Dan janganlah mereka (wanita-wanita mukmin) menampilkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak dari pandangan dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya ….” (an-Nur: 31)
Artinya, bila harus berbicara dengan pria non mahram, seorang wanita muslimah harus menutup aurat sebatas yang dia yakini sebagai aurat, menurut dasar yang jelas. Kecuali saat nazhar dengan tujuan memastikan kecocokan secara fisik, seperti tersebut di atas. Saat itu boleh dibuka sebagian aurat, asalkan bukan untuk dinikmati, tapi sekadar memastikan kecocokan fisik saja, maka yang dilihat juga harus sangat dibatasi.
3. Tenang dan Terhormat dalam Gerak-Gerik
Allah berfirman,
“… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (al-Ahzab: 32)
4. Serius dan Sopan dalam Berbicara
Allah berfirman,
“… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (al-Ahzab: 32)
5. Hindari Membicarakan Hal-hal yang Tidak Perlu
Allah berfirman,
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna…” (al-Mukminun : 1-3)
Selanjutnya, proses pertemuan harus ditemani oleh mahram, karena berduaan antara pria dan wanita yang belum menikah adalah haram, sebagaimana yang kita ketahui bersama.
Terakhir, ingatlah Allah saat sedang berhadapan dengan calon pasangan. Lupa sekejap saja, setan akan hingga menyerta.(***)
Konsultasi Pra Nikah, Majalah Nikah Sakinah Vol.9 No.8, November 2010

http://majalahsakinah.com/2010/12/pacaran-islami/

Tahukah Kamu, Di Manakah Allah?

Posted by Unknown at 04.07 0 comments

       Tahukah Kamu, Di Manakah Allah?


Ada sebuah pertanyaan penting yang cukup mendasar bagi setiap kaum muslimin yang telah mengakui dirinya sebagai seorang muslim. Setiap muslim selayaknya bisa memberikan jawaban dengan jelas dan tegas atas pertanyaan ini, karena bahkan seorang budak wanita yang bukan berasal dari kalangan orang terpelajar pun bisa menjawabnya. Bahkan pertanyaan ini dijadikan oleh Rasulullah sebagai tolak ukur keimanan seseorang. Pertanyaan tersebut adalah “Dimana Allah?”.
Jika selama ini kita mengaku muslim, jika selama ini kita yakin bahwa Allah satu-satunya yang berhak disembah, jika selama ini kita merasa sudah beribadah kepada Allah, maka sungguh mengherankan bukan jika kita tidak memiliki pengetahuan tentang dimanakah dzat yang kita sembah dan kita ibadahi selama ini. Atau dengan kata lain, ternyata kita belum mengenal Allah dengan baik, belum benar-benar mencintai Allah dan jika demikian bisa jadi selama ini kita juga belum menyembah Allah dengan benar. Sebagaimana perkataan seorang ulama besar Saudi Arabia, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin: “Seseorang tidak dapat beribadah kepada Allah secara sempurna dan dengan keyakinan yang benar sebelum mengetahui nama dan sifat Allah Ta’ala” (Muqoddimah Qowa’idul Mutsla).
Sebagian orang juga mengalami kebingungan atas pertanyaan ini. Ketika ditanya “dimanakah Allah?” ada yang menjawab ‘Allah ada dimana-mana’, ada juga yang menjawab ‘Allah ada di hati kita semua’, ada juga yang menjawab dengan marah sambil berkata ‘Jangan tanya Allah dimana, karena Allah tidak berada dimana-mana’. Semua ini, tidak ragu lagi, disebabkan kurangnya perhatian kaum muslimin terhadap ilmu agama, terhadap ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah yang telah jelas secara gamblang menjelaskan jawaban atas pertanyaan ini, bak mentari di siang hari.
Allah bersemayam di atas Arsy
“Dimanakah Allah?” maka jawaban yang benar adalah Allah bersemayam di atas Arsy, dan Arsy berada di atas langit. Hal ini sebagaimana diyakini oleh Imam Asy Syafi’I, ia berkata: “Berbicara tentang sunnah yang menjadi pegangan saya, murid-murid saya, dan para ahli hadits yang saya lihat dan yang saya ambil ilmunya, seperti Sufyan, Malik, dan yang lain, adalah iqrar seraya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang haq selain Allah, dan bahwa Muhammad itu adalah utusan Allah, serta bersaksi bahwa Allah itu diatas ‘Arsy di langit, dan dekat dengan makhluk-Nya” (Kitab I’tiqad Al Imamil Arba’ah, Bab 4). Demikian juga diyakini oleh para imam mazhab, yaitu Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi) dan Imam Ahmad Ibnu Hambal (Imam Hambali), tentang hal ini silakan merujuk pada kitab I’tiqad Al Imamil Arba’ah karya Muhammad bin Abdirrahman Al Khumais.
Keyakinan para imam tersebut tentunya bukan tanpa dalil, bahkan pernyataan bahwa Allah berada di langit didasari oleh dalil Al Qur’an, hadits, akal, fitrah dan ‘ijma.
1. Dalil Al Qur’an
Allah Ta’ala dalam Al Qur’anul Karim banyak sekali mensifati diri-Nya berada di atas Arsy yaitu di atas langit. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Allah Yang Maha Pemurah bersemayam di atas Arsy” (QS. Thaha: 5)
Ayat ini jelas dan tegas menerangkan bahwa Allah bersemayam di atas Arsy. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:
“Apakah kamu merasa aman terhadap Dzat yang di langit (yaitu Allah) kalau Dia hendak menjungkir-balikkan bumi beserta kamu sekalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang” (QS. Al Mulk: 16)
Juga ayat lain yang artinya:
“Malaikat-malaikat dan Jibril naik kepada Rabb-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun” (QS. Al-Ma’arij: 4). Ayat pun ini menunjukkan ketinggian Allah.
2. Dalil hadits
Dalam hadits Mu’awiyah bin Hakam, bahwa ia berniat membebaskan seorang budak wanita sebagai kafarah. Lalu ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menguji budak wanita tersebut. Beliau bertanya: “Dimanakah Allah?”, maka ia menjawab: “ Di atas langit”, beliau bertanya lagi: “Siapa aku?”, maka ia menjawab: “Anda utusan Allah”. Lalu beliau bersabda: “Bebaskanlah ia karena ia seorang yang beriman” (HR. Muslim).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda yang artinya:
“Setelah selesai menciptakan makhluk-Nya, di atas Arsy Allah menulis, ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului murka-Ku’ ” (HR. Bukhari-Muslim)
3. Dalil akal
Syaikh Muhammad Al Utsaimin berkata: “Akal seorang muslim yang jernih akan mengakui bahwa Allah memiliki sifat sempurna dan maha suci dari segala kekurangan. Dan ‘Uluw (Maha Tinggi) adalah sifat sempurna dari Suflun (rendah). Maka jelaslah bahwa Allah pasti memiliki sifat sempurna tersebut yaitu sifat ‘Uluw (Maha Tinggi)”. (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha)
4. Dalil fitrah
Perhatikanlah orang yang berdoa, atau orang yang berada dalam ketakutan, kemana ia akan menengadahkan tangannya untuk berdoa dan memohon pertolongan? Bahkan seseorang yang tidak belajar agama pun, karena fitrohnya, akan menengadahkan tangan dan pandangan ke atas langit untuk memohon kepada Allah Ta’ala, bukan ke kiri, ke kanan, ke bawah atau yang lain.
Namun perlu digaris bawahi bahwa pemahaman yang benar adalah meyakini bahwa Allah bersemayam di atas Arsy tanpa mendeskripsikan cara Allah bersemayam. Tidak boleh kita membayangkan Allah bersemayam di atas Arsy dengan duduk bersila atau dengan bersandar atau semacamnya. Karena Allah tidak serupa dengan makhluknya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah” (QS. Asy Syura: 11)
Maka kewajiban kita adalah meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy yang berada di atas langit sesuai yang dijelaskan Qur’an dan Sunnah tanpa mendeskripsikan atau mempertanyakan kaifiyah (tata cara) –nya. Imam Malik pernah ditanya dalam majelisnya tentang bagaimana caranya Allah bersemayam? Maka beliau menjawab: “Bagaimana caranya itu tidak pernah disebutkan (dalam Qur’an dan Sunnah), sedangkan istawa (bersemayam) itu sudah jelas maknanya, menanyakan tentang bagaimananya adalah bid’ah, dan saya memandang kamu (penanya) sebagai orang yang menyimpang, kemudian memerintahkan si penanya keluar dari majelis”. (Dinukil dari terjemah Aqidah Salaf Ashabil Hadits)
Allah bersama makhluk-Nya
Allah Ta’ala berada di atas Arsy, namun Allah Ta’ala juga dekat dan bersama makhluk-Nya. Allah Ta’ala berfirman yang artinya:
“Allah bersamamu di mana pun kau berada” (QS. Al Hadid: 4)
Ayat ini tidak menunjukkan bahwa dzat Allah Ta’ala berada di segala tempat. Karena jika demikian tentu konsekuensinya Allah juga berada di tempat-tempat kotor dan najis, selain itu jika Allah berada di segala tempat artinya Allah berbilang-bilang jumlahnya. Subhanallah, Maha Suci Allah dari semua itu. Maka yang benar, Allah Ta’ala Yang Maha Esa berada di atas Arsy namun dekat bersama hambanya. Jika kita mau memahami, sesungguhnya tidak ada yang bertentangan antara dua pernyataan tersebut.
Karena kata ma’a (bersama) dalam ayat tersebut, bukanlah kebersamaan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk, karena Allah tidak serupa dengan makhluk. Dengan kata lain, jika dikatakan Allah bersama makhluk-Nya bukan berarti Allah menempel atau berada di sebelah makhluk-Nya apalagi bersatu dengan makhluk-Nya.
Syaikh Muhammad Al-Utsaimin menjelaskan hal ini: “Allah bersama makhluk-Nya dalam arti mengetahui, berkuasa, mendengar, melihat, mengatur, menguasai dan makna-makna lain yang menyatakan ke-rububiyah-an Allah sambil bersemayam di atas Arsy di atas makhluk-Nya” (Qowaaidul Mutslaa, Bab Syubuhaat Wa Jawaabu ‘anha) .
Ketika berada di dalam gua bersama Rasulullah karena dikejar kaum musyrikin, Abu Bakar radhiallahu’anhu merasa sedih sehingga Rasulullah membacakan ayat Qur’an, yang artinya:
“Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. Taubah: 40)
Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini: “ ’Allah bersama kita’ yaitu dengan pertolongan-Nya, dengan bantuan-Nya dan kekuatan dari-Nya”. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya:
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku qoriib (dekat). Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu” (QS. Al Baqarah: 186)
Dalam ayat ini pun kata qoriib (dekat) tidak bisa kita bayangkan sebagaimana dekatnya makhluk dengan makhluk. Dalam Tafsir As Sa’di dijelaskan maksud ayat ini: “Sesungguhnya Allah Maha Menjaga dan Maha Mengetahui. Mengetahui yang samar dan tersembunyi. Mengetahui mata yang berkhianat dan hati yang ketakutan. Dan Allah juga dekat dengan hamba-Nya yang berdoa, sehingga Allah berfirman ‘Aku mengabulkan doa orang yang berdoa jika berdoa kepada-Ku’ ”. Kemudian dijelaskan pula: “Doa ada 2 macam, doa ibadah dan doa masalah. Dan kedekatan Allah ada 2 macam, dekatnya Allah dengan ilmu-Nya terhadap seluruh makhluk-Nya, dan dekatnya Allah kepada hambaNya yang berdoa untuk mengabulkan doanya” (Tafsir As Sa’di). Jadi, dekat di sini bukan berarti menempel atau bersebelahan dengan makhluk-Nya. Hal ini sebenarnya bisa dipahami dengan mudah. Dalam bahasa Indonesia pun, tatkala kita berkata ‘Budi dan Tono sangat dekat’, bukan berarti mereka berdua selalu bersama kemanapun perginya, dan bukan berarti rumah mereka bersebelahan.

Kaum muslimin, akhirnya telah jelas bagi kita bahwa Allah Yang Maha Tinggi berada dekat dan selalu bersama hamba-Nya. Allah Maha Mengetahui isi-isi hati kita. Allah tahu segala sesuatu yang samar dan tersembunyi. Allah tahu niat-niat buruk dan keburukan maksiat yang terbesit di hati. Allah bersama kita, maka masih beranikah kita berbuat bermaksiat kepada Allah dan meninggakan segala perintah-Nya?
Allah tahu hamba-hambanya yang butuh pertolongan dan pertolongan apa yang paling baik. Allah pun tahu jeritan hati kita yang yang faqir akan rahmat-Nya. Allah dekat dengan hamba-Nya yang berdoa dan mengabulkan doa-doa mereka. Maka, masih ragukah kita untuk hanya meminta pertolongan kepada Allah? Padahal Allah telah berjanji untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Kemudian, masih ragukah kita bahwa Allah Ta’ala sangat dekat dan mengabulkan doa-doa kita tanpa butuh perantara? Sehingga sebagian kita masih ada yang mencari perantara dari dukun, paranormal, para wali dan sesembahan lain selain Allah. Wallahul musta’an. [Yulian Purnama]

http://buletin.muslim.or.id/aqidah/tahukah-kamu-di-manakah-allah 
 

Desty Lilian Rosana Putri Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea