Minggu, 04 Agustus 2013
SENJA ITU
Senja itu, Rina seorang diri. Duduk di bawah pepohonan dan keningnya berkerut, batinnya berlari serta pikirannya berteriak. Dia melihat sekumpulan awan yang sedang berterbangan ke sana ke mari, dalam menyambut sang ratu-nya untuk kembali ke peraduannya. Tampak dedaunan pepohonan sekali-kali menyapanya, dengan cara berguguran dari ranting. Perlahan pula, dedaunan itu berguguran ibarat ditembak musuh dari seberang. Suasana udara di senja itu pun, sangat melankolis. Walau pun keningnya berkerut, Rina tidak terbawa emosi. Batinnya terasa dingin. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Dimana, bila Rina sedang dihadapi suatu problem, batinnya meraung-raung dan siap menerkam apa saja bila dilihat dan didengarnya. Bahkan tubuhnya sendiri, pernah disobeki dengan tangannya. Namun, tubuhnya tak sampai berluka.
Pernah suatu ketika, ketika ibunya diomelin tetangga sebelahan rumahnya yang juga masih mempunyai tali pusar dalam rumpun keluarga besarnya, Rina yang sedang berbaring di tikar, daun telinganya menangkap beribu-ribu kalimat yang ditujukan kepada ibunya. Rina beranjak bangun dari pembaringannya dan menuju ke arah ibunya untuk memastikan dari dekat, apa yang sedang dipertontonkan tetangganya itu terhadap ibunya. Rina berusaha menahan kadar amarah, yang perlahan menggigit ubun-ubunnya. Tarikan napasnya tidak beraturan lagi, bak orang gila yang diganggu ke-gila-annya oleh orang normal. Denyut nadi bersama sekompi adrenalinnya beradu kekuatan, di dalam tubuhnya yang siap mematangkan hasil nanakan di tunggu perapian.
“Ibu, manusia siapakah yang mencerca dengan beragam anak kalimat yang sangat mengganggu tidurku?? Katakan!! Entah setan atau Tuhan sekali pun, aku ingin menghadapinya. Kita berasal dari debu tanah, dan tentunya akan kembali pula dalam bentuk tanah. Tanah itu adil. Tanah itu selalu siap dan kapan serta dimana saja, ketika kita dipanggil kembali ke “kandang”. Aku tidak tega ibu diteriaki tetangga. Aku tidak tega melihat ubun-ubunku terbakar habis, hanya karena amarahnya “setan-setan” jalanan. Dan aku pun tidak akan membiarkan ibu hidup dan berkembang, dihimpit keserakahan “setan-setan” tersebut. Ibu, manusia siapakah yang mencerca dengan beragam anak sungai yang mulai mengaliri amarahku?? Katakan!!!
“Rina, anak Ibu yang baik hati. Tenangkan dirimu. Kuasailah amarahmu. Amarah adalah sebuah bentuk kediktatoran dalam membunuh diri dan masa depan. Amarah juga merupakan “pelacur-pelacur” kecil, yang saban hari mengganggu tangga pemikiran kita. Dewasa dan bijaklah dalam mendengar, melihat serta menyelesaikan setiap problem. Problem membuat kita semakin kaya akan cara-cara dalam menuntaskan problem itu sendiri. Ingat lho, setiap kita mempunyai problem yang telah terisi ke dalam perabotan rumah tangga. Dan tergantung kita-nya saja dalam mempergunakan perabotan tersebut. Masih dikuasai amarah??
“Masih!!” “Bersedia keluar dan berdamai dengan amarahmu itu?? Bersedia berdamai dengan dirimu, lingkungan serta orang-orang yang telah mencerca ibu dengan tidak sopan?? Bersediakah untuk kesemuanya itu??”
“Ibu, maafkan aku. Aku bukanlah malaikat. Aku juga bukanlah Tuhan Allah. Aku hanyalah sebagian dari sisa-sisa “sampah”, yang selalu kemasukan bau busuknya tetangga-tetangga itu. Aku bukan pohon, bila ditebas rantingnya hanya diam dan iklhas diperlakukan seperti itu. Aku bukan putik bunga, bila dihisap madunya oleh sekawanan lebah dan bisanya menangis. Aku bukan kertas, bila dipakai buat menulis secarik kata-kata cinta, hanya tersenyum sesaat. Aku bukan sapu tangan, bila dipakai mengeringkan lelehan keringat dan cuman mengiyakan saja. Namun dari itu, aku hanyalah semak belukar yang tumbuh, bernapas dan memakan. Bahkan, aku pun selalu dimakan ternak-ternak bila dilanda kelaparan sampai tidak meninggalkan sejejak pun, untuk dibuntuti ke manakah kaki-kakinya menorehkan luka yang belum disembuhkan dan telah bernanah bertahun-tahun. Sanggupkah ibu menyembuhkan kesemuanya itu, dengan sebotol betadine dan sepotong guntingan kain kasa?? Sanggupkah ibu mengembalikan ceceran-ceceran darah perawanku, yang pernah tertumpah di tanah ini karena dinaiki lelaki yang tidak bertanggung jawab itu?? Siapakah yang menjual perawanku kepada lelaki itu, demi melunasi hutang piutang?? Ibu, dekati dan sobeklah aku!”
Categories
Cerpen Ibu
JANJI UNTUK IBU
Memang kadang hidup tak selamanya akan sempurna dan seindah yang kita inginkan. Tapi apa daya kita sebagai manusia hanya bisa menerima takdir dari Tuhan dan selalu berusaha. Cerita ini berawal dari hidup ku yang hidup dari sebuah keluarga yang sederhana. Orang tua ku memberiku nama Putri, ayah memberi ku nama Putri karena alasan, aku adalah anak perempuan satu-satunya dari dua bersaudara. Aku hidup di sebuah desa di daerah Sumatera Selatan yaitu sebuah desa yang bernama Betung, ayah dan ibu adalah asli orang Komring. Mungkin kalian banyak yang belum tau suku Komring, suku Komring adalah suku asli dari Sumatera Selatan yang sangat kental dengan budayanya.
Memang benar kata ku sebelumnya, hidup tidaklah sempurna dan seindah yang kita inginkan. Itu terbukti orang yang sangat aku sayang dan cinta, yaitu ibuku meninggalkan kami sekeluarga untuk selamanya karena penyakit yang sudah bersarang lama di tubuhnya. Memang berat rasanya untuk terima dan ikhlas dengan kematian ibuku, saat itu aku masih duduk di kelas dua SD. Teringat semua kenangan dengan ibu yang tidak mungkin ku lupakan terutama pesan terakhir dari ibu yang memang terasa aneh bagiku, mungkin ibu sudah merasakan bahwa hidupnya sudah tak lama lagi.
"Menjadi perempuan bukanlah mudah, banyak yang harus kau jaga, tahu kan? Jadi jaga dirimu dan jaga juga adikmu!" kata ibu pada ku saat itu, dan ku hanya menganggukka
n kepala.
"Dan satu lagi, ibadah adalah bekal kita nanti, jadi janganlah kau lalaikan perintah agama." begitu lanjut ibu.
Terkenenang semua kenangan itu tanpa terasa air mata turun dari mata ku mengalir bagaikan derasnya sungai yang membanjiri pipiku. Dalam hati ku berjanji.
"Baik bu semua pesanmu pasti akan teringat dan ku terapkan dalam hidup ku ini."
Telah seminggu sudah ibu meninggalkan kami sedih masih menyelimutiku, kala teringat pada ibu. Terutama saat ku melihat adikku yang masih kecil, rasa iba ku pun menjadi tangis dalam hidupku, akan kah aku bisa membahagiakanya.
"Rohman sini dulu!" panggil ku pada adiku.
"Iya kak Rohman kesitu." katanya.
"Kamu yang kuat ya sayang kakak pasti akan menjaga mu dan menjadi ibu ke-dua buat mu." kata ku pada Rohman.
"Iya kak terima kasih, kapan ya kak kita bsa ketemu lagi dengan ibu? Rohman rindu sekali dengan ibu." tanyanya dengan polos.
Aku yang mendengarpun semakin terpukul dan menangis sambil memeluk adikku erat-erat.
"Sebetulnya kakak juga rindu dengan ibu, tapi sekarang belum saatnya kita ketemu dengan ibu. Tugas kita sekarang adalah menjadi anak sholeh sehingga bisa mendo'akan ibu dari sini."
Hal yang aku takutkan pun terjadi, ayah akhirnya memutuskan untuk menikah lagi dengan perempuan pilihannya. Dengan alasan akan ada yang mengurus rumah sekaligus menjadi ibu baru buat kami. Sempat ku merasa tidak terima dengan menikahnya ayah tapi apa daya, semua keinginan ku pun tak mungkin akan terwujujud. Akhirnya kamipun harus terima kalau kami punya ibu tiri. Seperti yang aku takuti dulu ternyata setelah beberapa bulan ayah menikah dengannya, semua kejelekan dan kekejaman ibu tiri kupun terlihat semua. Aku pun sering dimaki-maki tanpa alasan yang pasti, apalagi dia selalu menjelek-jelekan ku di depan ayah. Ayah yang tak tau apa-apapun sudah pasti memarahiku. Hingga suatu hari ayah memberi keputusan yang sangat ku tidak terima. Aku harus di berhentikan sekolah dengan berbagai alasan yang saat itu sekolahku harus putus di kelas empat SD.
"Sanak bay donti, ahirna begawina dilom dapur, jadi guai api haga sekolah. Lagi pula ekonomi kita mak sanggup haga nyekolahko niku." begitu kata ayah menggunakan bahasa komring yang artinya
"Anak perempuan akhirnya nanti juga akan kerja didapur, jadi buat apa kau sekolah. Lagi pula ekonomi kita tak sanggup untuk menyekolah kan mu."
Aku yang tak berdayapun hanya bisa terima kenyataan dan menangisi keadaan. Sempat ku berpikir apakah semua ini hasutan jahat dari ibu tiri ku, tapi sudah lah nasi sudah menjadi bubur aku harus terima semua kenyataan ini.
Hingga suatu hari merasa diriku sudah tidak berguna jika hanya diam di rumah dan hanya akan membuatku menderita makan hati karena cacian ibu tiriku. Aku akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah dan ikut nenek untuk mencari kerja di kota dimana nenek tinggal. Memang berat rasanya apa lagi aku harus meninggalkan Rohman dirumah dengan ibu tiriku, namun harus berani kujalani, kan akhirnya ku bekerja hasilnya untuk adiku juga, agar nasibnya tidak akan sama dengan ku.
"Man, kakak pergi dulu ikut nenek untuk cari kerja" kataku pada rohman sambil menangis, yang saat itu dia duduk di kelas 5 SD.
"Tapi nanti siapa yang menemani rohman, kak? " tanyanya.
"Tenang saja kan dirumah ada ayah dengan ibu ditambah sebentar lagi kita punya adik baru, jadi kamu harus patuh dengan ayah dan ibu." lanjut ku pada Rohman.
"Tapikan jelas berbeda dengan kakak." Rohman menjawab sambil meneteskan airmatanya.
"Sudah jangan mengeluh dan menangis lagi kamu kan laki-laki jadi nggak boleh menangis. Nanti kalau kakak pulang, kakak belikan mainan buat Rohman tapi Rohman harus janji rajin belajar dan ibadahnya tidak boleh lalai, buat kakak bangga!" kata ku pada Rohman sambil menangis.
"Baiklah kak tapi kakak juga tidak boleh menangis lagi dan jangan lupakan Rohman ya?" jawab Rohman.
"Tentu saja sayang kakak akan selalu ingat dengan mu." kataku pada rohman sembari mengusap air mata ku di pipi. Akhirnya aku meninggalkan rumah dan pamit pada ayah dan ibu, teringat selalu wajah Rohman selama di perjalanan tanpa ku sadari air mata menetes dari mata ku.
"Aku harus tegar demi Rohman dan menepati janjiku pada ibu." kata ku dalam hati.
Tanpa terasa, empat tahun sudah kepergian ku dari rumah untuk bekerja. Kadang ku mengambil libur untuk menjenguk Rohman, dan tentu saja gaji yang ku hasilkan dari bekerja ku sisihkan untuk uang sekolah Rohman. Masih teringat saat ku belikan dia mobil mainan yang tidak seberapa harganya, terlihat senyuman kebahagiaan dari wajahnya yang membuatku selalu menangis bila mengingatnya karena kebhagianya adalah kebahagianku juga. Tanpa terasa pula Rohman sudah menginjak kelas tiga SMP, yang berarti dia akan segera lulus dan akan melanjutkan sekolah ke SMA. Sempat aku mendengar percakapan ayah dengan ibu tiriku saat aku pulang ke rumah, bahwa setelah Rohman lulus SMP nanti tidak akan dilanjutkan sekolahnya. Dengan alasan terbatasnya ekonomi, ditambah kedua adikku dari ayah dan ibu tiri sudah mulai mengenyam pendidikan. Jadi kemungkinan besar Rohman tidak akan melanjutkan sekolah. Teringat ku pada janjiku dengan ibu untuk menjaga Rohman, sehingga ku putuskan untuk menyekolahkanya kelak dengan jerih payahku sendiri.
Tanpa terasa akhirnya Rohman lulus dari SMP, mendengar kabar itu aku putuskan untuk libur bekerja untuk beberapa hari. Sesampai di rumah aku mendengar bahwa Rohman menangis karena tidak diijinkan untuk melanjutkan sekolah. Hati ini sangat terpukul mendengarnya, akhirnya aku putuskan memberanikan diri untuk membawa Rohman ke kota untuk aku sekolahkan.
"Rohman sudah jangan menangis lagi, kamu kan laki-laki jadi harus tegar dan jangan mudah nangis!" kata ku pada Rohman yang sedang menangis dikamar.
"Iya kak tapi kan Rohman masih mau sekolah..." katanya sambil tersedu-sedu.
"Ya sudah jangan menangis lagi, nanti kamu ikut kakak ke kota dan kakak usahakan, kamu kakak sekolahkan." kata ku pada Rohman sembari memeluknya.
"Benar ya kak? Rohman janji akan bantu kakak dan patuh dengan kakak." katanya pada ku.
"Iya tentu saja, nanti kakak yang minta ijin pada ayah." lanjut ku pada Rohman.
Akhirnya aku minta ijin pada ayah membawa Rohman kekota untuk sekolahkan, lagi pula Rohman lulus dari SMP dengan nilai terbaik disekolahanya, jadi akan sangat rugi bila memberhentikan rohman sekolah padahal dia sangat berbakat dan pintar.
Hingga suatu hari aku menikah dengan orang yang aku sayangi. Yang membuat ku bersedia dia menyunting ku, karena dia juga bersedia untuk membantuku menyekolahkan Rohman. Sebut saja namanya adalah Parlan, Parlan adalah seorang lelaki yang sangat berbeda dengan laki-laki lain, yang lebih penting dia adalah imam yang sangat pantas buat keluarga karena dia termasuk orang yang sholeh. Setelah dua tahun menikah kami memiliki seorang anak laki-laki yang kami beri nama Paris. Tanpa terasa juga Rohman sudah lulus dari SMA dengan nilai yang terbaik di Sumatera Selatan. Perasaan bangga menjadi kakaknya memang tak bisa terhitung lagi, jerih payahku menyekolahkanya pun sudah terbayarkan dengan keberhasilanya.
Karena nilai Rohman yang sangat baik itu, akhirnya dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia tanpa mengeluarkan biaya sedikit pun, karena semuanya sudah ditanggung pemerintah Sumatra Selatan. Sehari sebelum Rohman pergi ke Jakarta aku sempat bicara empat mata dengannya.
"Terima kasih, atas bersedianya kakak menjadi ibu ke-dua buat Rohman, sehingga Rohman menjadi begini." kata Rohman pada ku.
"Sudahlah kakak sudah merasa terbayar dengan semua prestasi yang kau berikan ini." kataku pada Rohman sambil meneteskan air mata.
"Tapi Rohman merasa belum seberapa, dengan apa yang kakak berikan selama ini, suatu hari nanti setelah Rohman menjadi orang sukses, Rohman berjanji akan membahagiakan kakak dan tidak akan ada air mata lagi di hidup kakak." kata Rohman pada ku sembari mengusap air mataku.
Air mata ku pun mengalir membasahi pipi walau telah diusap oleh Rohman, dan ku peluk adikku sampai hati ini merasa puas.
Hari dimana Rohman akan pergi ke-Jakarta pun tiba, sedih bercampur bangga menjadi satu, do'a akan selalu menyertai adikku tersayang yang selamanya akan selalu begitu. Janji pada ibu pun terasa sudah sedikit terbayar, aku harap kelak Rohman dan anakku Paris menjadi orang yang sukses dan hidupnya selalu bahagia. Aku tidak mau, bila nasib orang yang aku sayangi, terutama anakku kelak sama nasibnya sepertiku yang selalu dihantui oleh penderitaan.
Categories
Cerpen Ibu
Senin, 29 Juli 2013
Testimoni hati di secangkir rasa
1/
Bening ,
di kelopak bening pagi ini,
pagi membersamai bening embun,
tetesnya tertahan di pucukpucuk daun
mengembun bening, ;
“ada, senyum nya disitu”
pagi membersamai bening embun,
tetesnya tertahan di pucukpucuk daun
mengembun bening, ;
“ada, senyum nya disitu”
ah, bening, binar mentari,
tersauh, di beningnya pagi,
aku terlarut pendar hangatnya
…
bening, aku jatuh cinta pada nya, pada bening mata nya dan kekar jemarinya,
tersauh, di beningnya pagi,
aku terlarut pendar hangatnya
…
bening, aku jatuh cinta pada nya, pada bening mata nya dan kekar jemarinya,
ah, bening, selingkar senyumku tertawan di telapak
matahari
2/
titis embun pagi ini adalah cerita tentang
rinduku,rindu yang terpagar di batang hari,
apakabarnya sayang,pagi ini?
senandung daundaun adalah degubdebur hatiku,
pulasan kabut adalah jejak senyum di raut pipih pipimu yang terlukis di celah pagi,
sayang,
pagi ini, aku merindui,
rindu yang terpinang
rindu yang tak seperti biasa,
seperti rindu senja pada matahari
apakabarnya sayang,pagi ini?
senandung daundaun adalah degubdebur hatiku,
pulasan kabut adalah jejak senyum di raut pipih pipimu yang terlukis di celah pagi,
sayang,
pagi ini, aku merindui,
rindu yang terpinang
rindu yang tak seperti biasa,
seperti rindu senja pada matahari
3/
Senang melihat hujan
titik titik membungkam bumi
mencericis, lewati angin angin
menjejaki tanah tanah rindu
lesat tanpa jeda
gemerincing lincah
meneduh gelisah.
senang ketika hujan menari
gelap menyulam langit,
lenguh daundaun sepanjang ritme,
… decit decit
deru mesin mesin
adalah degubdebur bumi hati.
senang ketika hujan
menghujam bumi,
saat siluet senja tertutupi mendung,
saat itu pula teduh matamu ada dihadapanku
menyembul senyum di kanan kirimu
senang ketika hujan,
ku panggil itu,
titik titik membungkam bumi
mencericis, lewati angin angin
menjejaki tanah tanah rindu
lesat tanpa jeda
gemerincing lincah
meneduh gelisah.
senang ketika hujan menari
gelap menyulam langit,
lenguh daundaun sepanjang ritme,
… decit decit
deru mesin mesin
adalah degubdebur bumi hati.
senang ketika hujan
menghujam bumi,
saat siluet senja tertutupi mendung,
saat itu pula teduh matamu ada dihadapanku
menyembul senyum di kanan kirimu
senang ketika hujan,
ku panggil itu,
4/
segeralah pulang,
terlalu buram cahaya lampu untuk dinikmati sendirian
terlalu buram cahaya lampu untuk dinikmati sendirian
segeralah pulang,
lalu kita duduk berbincang
menikmati secangkir teh kental
lalu kita duduk berbincang
menikmati secangkir teh kental
segeralah pulang,
malam begitu dingin
untuk mengapit sekerat rindu sendirian
malam begitu dingin
untuk mengapit sekerat rindu sendirian
5/
tanpa kita sadari
ada cerita yang mulai terbiasa kita tulis
ketika fajar mulai menyapa pagi,
ketika senja melukis langit sore
hingga sampai pada lilitan angin di pintu mimpi,
ketika senja melukis langit sore
hingga sampai pada lilitan angin di pintu mimpi,
ada romansa yang tersaji,
… seperti hidangan teh kental dan sebuah poci yang hangat
semua, ada.. baru saja kita menulisnya..
kita tak lagi bicara dalam diam
tak lagi diam ketika ada,
tak lagi diam ketika ada,
semua ada, tentang
bilangan senyum yang tergantung di celah awan,
menawan, dan, tertawan
bilangan senyum yang tergantung di celah awan,
menawan, dan, tertawan
semua ada,
di bilangan jemari kekar mentari
di bilangan jemari kekar mentari
kita adalah kata,
dan kita adalah cerita
dan kita adalah cerita
6/
menyita pandangan mataku, sejauh ini, hati
tergelitik ilalang, betapa tidak, lembar halusnya menari nari di daun telinga.
ah, masih ku merinduinya, telapak kekar jemari matahari
seperti, pagi ini….
mengundang riak kemerahan di hamparan biru laut.
bukan sekedar memulasnya, tapi sensasi menggemaskan
ah, masih ku merinduinya, telapak kekar jemari matahari
seperti, pagi ini….
mengundang riak kemerahan di hamparan biru laut.
bukan sekedar memulasnya, tapi sensasi menggemaskan
KEDIRI, 31 JULI 2013
Categories
Puisi
Cemburui kata itu
cemburuilah katakata itu, dari puisi puisi deru biru,
hurufhurufnya tersimpan rahasia,
bukan aku,yang mesti kau cemburui,
karena aku bagian yang diciptakan katakata,
aku menari dalam kata,
tersenyum dalam bahasa
menangis dalam kata,
dan cemburu dalam diam,
… dan aku jatuh cinta tanpa harus berkata,
cemburuilah katakata itu,
dan ketika aku rindu pun,
bukankah, sudah aku berkatakata,?
cukup,aku dalam kata mu!
Categories
Puisi
SENJA
Dalam diam
pekat senyap
aku menghitung senyum mu yang terbias di sudut rembang petang
lampulampu mulai dinyalakan
angin-angin berdesir melenting
menyapu rona jingga di wajah laut
pada langitlangit yang berpendar
diam diam ku eja tiap huruf huruf namamu pada pasir basah
bersama gelisah yang meramu sempurna
seluruh bahasa tentang mu adalah pucuk pucuk rindu,bertunas
kemudian meranum di tiap batang hari
di sebuah senja, dalam lilitan angin musim hujan tahun ini,
aku membawa satu pesan untukmu,
rindu senja yang terpinang
senja yang temaram di kedalaman hatimu
seperti rindu senja yang tak pernah habis pada matahari.
Kediri, 31 Juli 2013
Categories
Puisi
PEMUJA RAHASIA
Kuberitahu,
namanya Zain. Aku.. adalah pemuja rahasianya. Bukan sejak lima tahun sejak batu
pertama ditancapkan sebelum berdiri utuhnya Cafe ini. Lebih lama dari itu.
Nanti tanpa diminta aku pasti dengan sukarela mengotomatiskan pikiranku untuk
bercerita. Tentang dia. Tidak terlalu penting. Yang penting sekarang adalah
bahwa aku telah mengaku aku mencintainya sekalipun hanya dari sudut Cafe ini
setiap hari Rabu.
Dari
balik kaca jendela Cafe di meja nomor 6 ini, dengan jelas aku dapat melihat
langkah tegasya menuju parkiran khusus miliknya yang diberi tanda ”Parkir
Khusus Pemilik Cafe”. Papan itu berdiri gagah tepat di depan mobil jagoar hitam
miliknya. Sama seperti pemiliknya, siapapun tahu bahwa mobil itu terawat dengan
baik, mengkilap tanpa goresan sedikitpun. Tatapan para wanita yang sebagian
besar singgah sepulang kantor tertuju pada satu fokus yang menyiratkan tatapan kagum
dan terpesona. Sama seperti tatapanku. Tatapan candu pada pria pemilik Cafe
itu. Zain. Kemeja abu-abu yang dipakai Zain sudah lebih cukup menunjang
pesonanya. Lengan kemeja yang panjang digulung sampai siku. Kurang maskulin
apa? Para wanita yang akan berjalan berpapasan dengan Zain terhenti sebentar
dan berbisik dengan teman disampingnya. Zain tak peduli. Aku sudah tahu itu.
Sejak dulu aku mengikrarkan diri menjadi pengagum rahasia yang setia pun, dia
tak pernah peduli dengan gadis yang menatap bahkan meneriakinya. Meneriaki
layaknya bintang yang sedang bersinar.
Di
masa lalu, semua orang bisa mengira, pesonanya sama memukaunya. Dia bintang
lapangan. Pemain basket pujaan hati wanita. Aku, sebagi penggemarnya nomor
satu, tak sekalipun melewatkan pertandingannya. Masih sama seperti saat ini,
setia memojok di sudut jarak pandang setiap orang. Aku tak pernah peduli bahwa
tak ada yang peduli. Sama seperti Zain yang tidak peduli pada tatapan para
gadis di sekitarnya. Kalau memang harus jujur, aku senang dia tak peduli, tak
pernah peduli.
Aku
menopangkan dagu ketika melihat mobil Jaguar hitam miliknya memudar menjauh
dari pandangan. Bukan kali ini saja, aku selalu mampu menunggingkan para wanita
yang berbisik tadi kecewa Zain tak menyadari kehadiran mereka. Aku tersenyum.
Merasa menang dan tenang bahwa idola nomor satu itu masih sama seperti dulu.
Apa yang dia pedulikan? Apa yang mampu mengarahkan pandangannya?
”Ibu,
ini minumannya. Selamat menikmati”. Suara ramah seorang pramusaji mampu
membuyarkan lamunanku dan membuatku cukup terperanjak karena kaget. Strawberry
milkshake pesananku sudah datang. Tepat berada di sudut 180° dari pusat
pandanganku. Imaji kesegaran segera menghampiriku. Terbayang nikmatnya minuman
yang bahkan belum sempat aku sentuh ini. Tak perlu kusentuh pun, aku sudah
hapal diluar kepala. Ini menu minuman favoritku.
”Terima
kasih” ujarku singkat sambil melayangkan sekilas senyum pada gadis pramusaji
itu.
”ada
lagi yang bisa saya bantu Bu?” tawarnya ramah.
”Oh
tidak. Nanti kalau memang ada yang ingin saya pesan lagi, akan saya panggil.
Terima kasih.” ulangku lagi.
”Selamat
menikmati Bu.” ucapnya mengakhiri pelayanan singkat ini. Pramusaji itu berlalu.
Aku
menyeruput Strawberry milkshake-ku. Seperti dugaanku, segarnya mengalir
melewati kerongkongan. Ada cerita dibalik minuman ini. Mau tak mau untuk
kesekian kalinya, pikiranku kembali melayang ke masa tujuh tahun yang lalu.
Saat aku masih resmi menyandang status mahasiswa tingkat akhir jurusan Sastra
Inggris di Universitas Gajah Mada, sebuah perguruan kebanggaan masyarakat
Yogyakarta. Saat itu, aku duduk sendirian di perpustakaan pusat sibuk menjamah
halaman demi halaman buku sumber yang kujadikan acuan dalam skripsiku.
Perpustakaan sepi. Langkah kaki terdengar menaiki tangga, langkah kaki yang
berat. Bangku berdecit saat digeser dan sesosok tubuh menghempaskan diri pada
bangku kayu itu. Tepat berada pada jarak dua meja di depanku. Itu dia. Si idola
nomor satu. Tak perlu kupandang dengan jelas, cukup dari sudut mataku aku bisa
mengenali dengan jelas sosok familiar itu. Bahkan jika tidak berlebihan, dari
bayangannya saja, aku sudah tahu itu dia. Jangan ditanya apa rasanya berada
dalam jarak dekat dengan sosok itu. Jikalau bisa, aku sudah mencopot sejenak
jantungku keluar dari tubuhku karena debaran yang sangat keras dengan ritme
tidak teratur karena itu cukup membuatku lelah walau hanya satu menit saja.
Kucoba
menenangkan diri. ”Khansa, Khansa. Tetaplah
waras. Bahkan dia tidak akan peduli dengan kehadiranmu.” Begitu kata otakku
saat itu. Aku masih bersikap sangat tenang dari luar padahal disaat yang
bersamaan organ jantungku yang bekerja diluar kesadaran itu sudah bekerja jauh
melenceng dari fungsi fisiologinya. Aku seperti mendadak terserang takikardi
karena detak jantung yang mendadak berdebar cepat ini saat kusadari
kehadirannya disitu dengan santainya. Aku berdebar namun sangat menikmati
kesempatan langka yang belum tentu akan terjadi lagi itu. Masih dari sudut mata
yang sebisa mungkin kuusahakan tidak disadari itu, aku melihat dia diam-diam mengeluarkan
sesuatu dari tas kecilnya yang sedari tadi berusaha ia jaga seperti menjaga
barang yang berharga. Saking penasaran dengan tindakan apa yang ia lakukan, aku
melihatnya tersenyum jahil untuk pertama kali sejak aku berikrar menjadi
pengagum rahasianya yang nomor satu. Segelas plastik strawberry milkshake.
Wajahnya
begitu gembira menatap minuman itu utuh. Aku tidak mampu lagi menahan senyumku
dan mengacuhkan setumpuk buku yang ada dihadapanku ketika kulihat dengan wajah
bahagia dia menyeruput minuman itu. Dia tidak berhenti menyeruput minuman itu
dengan sedotan seakan telah menahan dahaga selama seminggu. Sebagai pemuja
rahasia nomor satu, aku merasa beruntung. Aku tahu satu rahasia tentang dia.
Dan mungkin itu adalah rahasia besar. Juga, satu lagi alasan lagi untuk semakin
menyukainya.
“aduh
aduh aduh. ampun pak, sakit pak...”sebuah teriakan kecil terdengar. Kali ini
aku tidak malu-malu untuk mengarahkan pandangan tepat lurus ke depan saat
mendengar suara gaduh itu. Aku spontan tertawa ketika kulihat Pak Yadi, penjaga
perpustakaan, sedang menjewer telinga kanan Zain.
“saya
kan sudah bilang, jangan diam-diam bawa minuman kesini. Kamu bandel banget sih
dibilangin berkali-kali.” omelan Pak Yadi terdengar ke seluruh ruangan sepi
itu. Satu hal lagi yang kini aku tahu, walau aku jarang ke perpustakaan. Aku
jadi tahu bahwa Zain sering membawa Strawberry Milkshake secara diam-diam dan
meminumnya di perpustakaan sampai ketahuan.
Aku
tersentak drau nostalgiaku ketika tanganku yang sedari tadi menyentuh dasar
gelas basah akibat tetesan air yang mengalir dari dinding gelas yang dingin
mengenai punggung tanganku. Ah, duniaku berotasi hanya pada satu poros yang
selalu sama. Zain. Kagumku tujuh tahun adalah waktu minimal aku menghabiskan
waktu untuk menjadi pemuja rahasianya yang paling setia. Aku tidak ingat berapa
lama tepatnya tapi sudah pasti tujuh tahun ini adalah waktu yang kuhabiskan
untuk satu nama saja. Puji aku untuk kesetiaanku sekalipun aku tahu dia tak
tahu. Aku kan memang hanya pemuja rahasianya.
Semua
rasa bisa datang tapi juga bisa pergi pada pengagum rahasia yang lain. Tapi
tidak buatku. Tujuh tahun adalah waktu yang cukup untuk membuktikannya. Aku
melirik jam tangan hitamku. Nyaris satu jam penuh aku duduk disini. Sibuk
dengan kegiatan yang sama dan kebiasaan yang sama setiap minggunya di hari
Rabu. Hari dimana dengan jelas aku bisa mengingat dengan rinci setiap detail
memori di perpustakaan itu. Hari Rabu ini adalah tepat tujuh tahun sejak hari
itu. Aku menamainya, The Milkshake Day. Inilah caraku melakukan selebrasinya.
Mobil
Jaguar Hitam yang sejak sejam yang lalu menghilang sudah rapi kembali terparkir
di tempat parkiran khusus itu. Dia yang berkemeja abu-abu turun dari mobil.
Gagah seperti hari-hari sebelumnya, berjalan ke sisi mobil lainnya dan
membukakan pintu mobil. Seorang gadis turun dari pintu mobil itu dengan
hati-hati. Aku mengamati dengan seksama tanpa kedipan mata. Zain tersenyum pada
gadis itu dan menggandeng tangan gadis berseragam abu-abu itu. Warna yang sama
dengan kemeja Zain. Zain tampak bahagia sekali bersama dengan gadis itu. Mereka
berjalan masuk berdampingan dalam genggaman tangan yang erat. Aku dapat melihat
dengan jelas. Posisiku saat ini adalah posisi yang sangat strategis karena
berjarak beberapa meter garis lurus dari pintu masuk Cafe. Tangan kanan Zain
menggenggam erat tangan gadis itu sementara tangannya yang lain disimpan
dibalik punggungnya. Gadis itu melepas genggaman Zain dan mulai melangkah cepat
lurus menuju ke arahku. Aku melayangkan senyuman yang paling manis yang aku
bisa. Gadis itu mempercepat langkahnya.
”Bundaaaaaa....”
Gadis itu menghambur kepelukanku. Gadis cilik berumur enam tahun yang baru saja
pulang dari kursus biolanya ini langsung melayangkan kecupan di pipiku. Dindi
namanya. Dengan segala kelincahan yang ia punya, Dindi langsung duduk di
pangkuanku.
:”Aduh
sayang Bunda udah pulang. Capek nak?” Aku mengusap kepalanya dan menyapu poni
yang menutup keningnya. Dindi menggeleng.
”Udah
enggak habis ketemu Bunda. Hehehe..” ucapnya polos. Aku mencium gemas pipinya.
”sayang, this is for
you..” Sebuah tangan terasa hangat merangkul bahuku dan disaat yang bersamaan
sebuket bunga lili putih terhampar di hadapanku. Bunga favoritku. Zain selalu
ingat. Walau memberikan sebuket bunga lili di setiap hari Rabu sore adalah
suatu kebiasaan baginya sama seperti kebiasaanku duduk di bangku yang sama,
tapi ini tak menjadi alasan untuk sebuah kejenuhan. Aku meraih bunga iyu dan
tersenyum ke arahnya. Zain balas tersenyum hangat. Dan satu lagi rahasia.
Senyum ini adalah senyum yang hanya kutemukan saat ia menatapku dan putri cilik
kami, Dindi.
“Kamu selalu tau
kesukaanku. Jangan-jangan kamu secret admirerku ya sayang..” ucapnya dan
langsung menyambar Strawberry milkshake pesananku. Aku mencubit lengannya dan
sebuah kecupan melayang dengan lembutnya di keningku.
Categories
cerpen Cinta
Langganan:
Postingan (Atom)





