Lumpy Space Princess - Adventure Time

Sabtu, 20 Juli 2013

KETABAHAN DINAR

Posted by Unknown at 02.24 0 comments


 Aku menatap bocah enam tahun yang berdiri di depanku. Tubuhnya penuh dengan daki. Aroma tak sedap merasuki penciumanku. Entah sudah berapa lama tubuhnya yang mungil tak bersentuhan dengan air dan sabun mandi.

Bola matanya yang indah memancarkan sebuah semangat. Astaga! Senyumannya manis sekali ketika dia tersenyum padaku. Sepasang lesung pipi menghiasi wajahnya. Laksana pelangi yang menghiasi langit hujan.

”Nama kamu siapa?” tanyaku sambil membalas senyumnya.

”Dinar.” jawabnya sambil tangannya memainkan ujung bajunya yang penuh tambalan.

”Dinar datang kemari dengan siapa?”

Diam. Tak ada jawaban. Pandangannya menyapu lantai kelas yang kosong. Masih belum ada murid yang datang. Biasanya kalau hujan seperti ini murid-murid datangnya suka agak telat. Ada sebutir air mata yang mendadak jatuh membasahi pipinya. Aku menjadi bingung dengan reaksinya atas pertanyaanku.

”Dinar datang sendiri ya?” tanyaku sambil menggengam tangannya yang dingin.

”memang kenapa kalau nggak ada ayah dan ibu? aku nggak boleh belajar di sini ya kak?” jawabnya pelan.

”Siapa pun bisa belajar di sini. Termasuk kamu dik.” Jawabku lalu mengelus-ngelus kepalanya dengan lembut.

“Dinar nggak punya ayah dan ibu. Ayah dan ibu Dinar sudah meninggal. Dinar tinggal dengan nenek.”

Aku memperhatikan kantong plastik tua yang dibawanya. Merasa aku penasaran dengan isi kantong plastik tersebut, Dinar langsung mengeluarkan isinya.

Ya Allah! Aku mencoba membendung air mataku agar tidak jatuh. Miris, sesak, sedih, dan terharu menyatu di dalam dadaku melihat isi kantong plastik yang dibawanya. Dengan bangganya dia memperlihatkanku, beberapa lembar kalender usang yang telah dipotong empat lalu dilobangi dan diikat dengan tali dijadikan buku. Sebuah pensil yang sepertinya sudah di serut dengan pisau.

“Buku Dinar jelek ya kak?” aku langsung memeluknya. Suaraku sepertinya tertahan di tenggorokanku. Aku tak mampu mengatakan apa pun. Air mataku pun berhasil jatuh. Aku mengagumi semangatnya yang ingin belajar. Sebuah semangat yang luar biasa di antara keterbatasan yang dimilikinya.

Sewaktu aku kecil, aku sering merobek bukuku hanya untuk membuat pesawat kertas atau perahu. Ketika aku duduk di bangku SMP, bukuku sering penuh dengan coretan yang tak jelas.

                                                                 ***
Selesai kelas dan anak-anak lainnya sudah pulang semua. Aku pun mengantar Dinar pulang. Bukan karena dia tidak bisa pulang sendiri. Tapi aku ingin melihat di mana ia tinggal.

“Kakak, ini rumah Dinar! Ucapnya dengan penuh kebanggaan. Tak ada sedikit pun rasa malu.

Ini bukan rumah apalagi gubuk.

Aku memperhatikan hamparan tikar tua yang menjadi alas. Sekat setinggi lutut orang dewasa mengelilingi rumahnya. Tidak ada dinding sama sekali apalagi atap. Jalan tol megah menjadi atapnya. Tumpukan kardus menjadi perabot rumah tersebut. Halamannya penuh dengan tumpukan gelas dan botol bekas air mineral.

”Masuk Kak, nenek lagi nggak ada. Masih mulung!”

Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya. Aku masuk lalu menghempaskan tubuhku ke lantai.

”Kak ini air minumnya ya.” Ucap bocah itu lalu menyerahkan segelas air putih.

Aku meraih gelas yang penuh dengan air putih tersebut lalu meminumnya. Terasa aneh di lidahku. Sepertinya itu adalah air sumur yang telah di rebus.

***
Dalam kurun dua minggu Dinar sudah bisa mengenal semua abjad dan angka. Prestasi yang tidak dapat diikuti oleh teman-teman sekelasnya yang lain.

”Wah, Dinar hebat! Sudah bisa mengenal semua huruf.” pujiku setelah KBM selesai.

Dengan malu-malu dia tersenyum padaku. Detik sebelumnya, dia mencari sesuatu di dalam tas yang pernah aku berikan padanya.

“Dinar mau bisa membaca kitab suci seperti ayah dan ibu dulu. Makanya Dinar mau belajar.”

Wajahku rasanya seperti tertampar. “Maafkan aku, Tuhan. Pagi ini aku telah melupakanMu. Aku tak membaca sabda suciMu.” Bisikku dalam hati.

***
Wajahku memancarkan kegelisahan. Entah kenapa, aku merasa kuatir ketika Dinar belum juga datang. Tak seperti biasanya, jam segini dia sudah datang. Lalu dia menjadi murid pertama yang hadir di kelas. Lima menit lagi KBM akan dimulai.

Hingga waktu jam KBM, Dinar tak juga datang.
”Sakitkah dia?” tanyaku dalam hati.

Tak ada satu pun yang tahu alasan Dinar tidak hadir hari ini di kelas. Selesai KBM, aku langsung bergegas menuju ke tempat tinggalnya. Sebelum sampai di rumah Dinar, seorang ibu menyapaku.

”Cari Dinar ya, mbak?”

Aku menganggukan kepala sambil menjawab, ”Iya Bu.”

”Dinar di rumah sakit, mbak. Semalam ia...”

***
Tangan kanannya penuh dengan perban. Ia kecelakaan ketika membantu neneknya memulung dan tangan kanannya terlindas ban truk sehingga dia harus diamputasi. Dengan bekal pinjaman sana-sini dan bantuan tetangga serta pengguna jalan raya yang menyaksikan peristiwa tersebut, akhirnya Dinar di bawa ke rumah sakit.

Kantong plastik yang berisi seragam sekolah, tas dan perlengkapan sekolah terlepas dari tanganku. Masih terngiang di kepalaku percakapan kami kemarin.

”Kak, Dinar mau masuk SD tapi kata nenek, uangnya belum cukup. Katanya baju seragam sekolahnya mahal.”

”Dinar pasti sekolah. Percayalah!”
Tangan kanannya yang buntung dibalut perban. Betapa mirisnya hatiku melihat perban itu. Aku melihat tubuhnya yang pucat dan menahan rasa sakit diantara selang infus yang masih terpasang di tubuhnya.

Aku mengumpulkan semua kekuatanku untuk menyapanya.
”Halo, Dinar?”

Aku duduk di sisinya. Aku membelai rambutnya.
”Kak, tangan Dinar sakit sekali. Tangan Dinar kenapa dipotong? Kan Dinar mau nulis.”

Aku mencoba untuk menahan air mataku agar tidak jatuh membasahi pipiku. Aku tidak boleh menangis di depan Dinar.

”Dinar pasti sembuh!” kataku mencoba menghiburnya.

”Kalo Dinar sembuh itu artinya tangan Dinar tumbuh lagi ya, Kak?”

Nenek Dinar yang berdiri di belakangku memegang erat pundakku.

”Iya, Dinar lupa. Dinar bisa menulis pakai tangan kiri. Kalau Tuhan nggak bisa kasih mukzizat untuk numbuhin tangan kanan Dinar, Tuhan pasti kasih mukzizat buat Dinar untuk menulis dengan tangan kiri.” ucapnya dengan senyuman.

Aku tidak bisa menahan air mataku untuk tidak jatuh. Aku juga merasakan tetesan air mata nenek Dinar jatuh membasahi bahuku.

Sepotong asaku

Posted by Unknown at 02.21 1 comments


Masa sekolah bukan melulu tentang dinamika remaja, setidaknya untukku, masa sekolah adalah masa dimana aku harus menyatu dengan kepenatan. Mencari gemerincing rupiah yang akan meringankan gelembung beban di pundak sang Emak. Lembaran putih catatan takdirku, dihiasi oleh noktah kecoklatan yang terbentuk oleh peluh dan terfermentasi oleh keadaan.
“bulan depan ujian akhir, kalian Bapak panggil ke kantor karena kalian sudah nunggak SPP selama 3 bulan. Kalau sampai bulan depan kalian tidak melunasinya, terpaksa Bapak tidak mengizinkan kalian ikut UAS.”
Sengatan listrik ribuan volt mengalir membekukan jantung. Membuatku berhenti bergerak untuk sepersekian detik kemudian bergerak kembali dalam bentuk dentuman-dentuman besar pengabar duka.
***
“kamu menangis? kamu kenapa?” Tanya Agus sambil memberikan tissue dari belakang.
“SPP?” muncul suara Rama masuk ke dalam kelas.
“hehe iya. Ah tapi nggak apa-apa kok, santai aja aku akan terus berusaha untuk melunasinya. Kan kalian tahu aku cewek kuat, pantang putus asa!” jawabku sembari senyumku mengembang.
“Ah kamu mah sok tegar, udah lah Jul kita kan sahabat sejak kecil. Aku tahu tentang sifatmu dan apa-apa yang sedang kamu hadapi. Kamu dan emakmu dulu pernah bantu keluargaku mengurusi aku dan adikku ketika sehari setelah ibuku meninggal, ketika aku tak punya keluarga lagi, ketika kami berdua sebatang kara. Dan aku takkan pernah lupakan itu.” Timpal Rama.
“Ah, aku tahu. Aku punya ide!” Teriak Agus sambil menggandeng tangan Rama keluar.
***
Adonan tepung putih yang kubalurkan kepada berpotong-potong pisang menjadi sanksi gelombang kelam yang terpancar di mata. Fokus pandanganku tertuju pada satu titik, dimana seorang wanita paruh baya tampak tengah bergulat dengan denting pisau dan sayur-mayur. Butiran peluh menghiasi wajahnya, kuyu. Helaian rambutnya yang mulai memutih terlepas dari ikatan kusam di belakang kepalanya. Lengan tuanya, dipenuhi gurat-gurat keletihan, tak henti memotong aneka remah hijau yang ada di hadapannya. Kematian bapak empat tahun silam merubahnya menjadi srikandi yang harus berjuang menghidupi keempat anaknya, membusurkan panah keinginan dalam ranah takdir. Aku mendesah, potongan duka yang didapatkanku sehari silam kusimpan rapih, enggan kusajikan untuk melengkapi kepenatan Emak.
Kata-kata kepala sekolah kembali terngiang di benak ini, betapa aku harus segera melunasi seluruh kekurangan biaya sekolah dan betapa aku harus segera memberitahukan Emak. Sesegera mungkin.
Persetan! Emak sudah terlalu letih menanggung hidupku. Takkan kubebani pundaknya yang sudah terlalu tua. Akan kubuka mata dunia, lengan kecilku akan mampu menanggung kebutuhan takdirku sendiri, akan pendidikan.
Aku kembali menyatu bersama adonan tepung dan potongan-potongan pisang disertai berbagai wacana yang memenuhi benakku.
***
“kok buru-buru, Jul?” sapaan Rama menghentikan langkahnya menyusuri koridor itu.
“eh iya nih, aku mau ke Bu Ruli.” Jawabku.
“ngapain?”
“biasa, ngurusin kerang.” Jawabku singkat, langkahku kembali teratur, terdidik rapih untuk segera menuntaskan koridor sekolah.
Maaf kawan, masih ada selusur masa depan yang harus kutaklukan. Setiap detik yang akan kuhabiskan menikmati masa remaja bersama kalian senilai dengan sejengkal hidup yang akan kuberikan untuk Emak.
Butiran molekul yang pembentuk terik, gemuruh angin sore, serta kelamnya angin malam selalu menemani perjuanganku. Laksana penjelajah ruang dan waktu, aku berpindah tempat dalam hitungan beberapa menit. Berkeliling membawa jajanan tradisional yang dibuat Emak. Mengurusi industri kerang Bu Ruli, menjajakan lembaran cerita buram diantara celah-celah kendaraan yang dihentikan lampu merah, semua kulakukan untuk menebus bebas pendidikanku. 3 bulan SPP.
***
Jam pasir yang berisi butiran kesempatan mendapat hidup yang lebih baik itu menguap, melewati lengkup terakhir. Habis sudah tenggang waktu yang diberikan kepala sekolah. Habis sudah kesempataku mengumpulkan rupiah sebanyak Rp. 250.000 . Kumenengadah, gemerincing rupiah yang dihasilkan perasan keringat ini hanya berjumlah Rp. 145.000. Jantungku berderik, mataku lurus, nanar menyaksikan hiruk pikuk alam yang enggan mengerti keterbatasanku.
Bulir-bulir bening mengalir membentuk kawah keputus-asaan, membasahi pipiku yang tertutup debu. Tangisku pecah, menandakan penyerahan terhadap takdir yang akan menyambutku esok hari.
Tuhan, saksikanlah keteguhanku menjaga kebahagiaan Emak. Biarlah kulepas semua kenikmatan yang dijanjikan pendidikan, demi Emak. Akan kuhadapi serpihan-serpihan takdirku yang lain, bermodalkan tekad dan senyum Emak. Aku menyerah.
Tangis membawaku pulang, kembali pada Emak dan ketika adikku. Kembali pada berakhirnya impian Emak punya anak sarjana, kembali pada titik beku antara aku dan kebuasan pendidikan.
“Juli, kemana saja kamu?” Tanya Emak.
Derit pintu berderit mengiringi kepulanganku. Mencium tangan Emak dan menyaksikan betapa sesuatu yang lain, sangat lain. Terhidang diantara kursi-kursi reot yang mengisi ruang tamu sempit itu. Ratih, Rama, dan Agus, teman sekelasku duduk di sudut ruangan.
“duduk dulu nak.”
Emak membimbingku duduk disampingnya. Aku sibuk membaca berbagai ekspresi yang dipancarkan seluruh penghuni ruangan ini. Apa yang terjadi?
“Jul, kita kesini Cuma mau nyampein ini.” Ratih, gadis manis berkerudung putih menyerahkan sebuah amplop putih yang terdengar bergemericik.
“apa nih, Tih?” tanyaku, belum dapat menjamah apa yang sedang terjadi.
“itu amanat dari teman-teman sekelas, Jul.” jawab Agus.
“Buka saja.” Lanjutnya.
Jemariku bergetar ketika membuka simpul sederhana yang membelit benda hitam menggelembung itu. Logikaku seakan menolak apa yang diekspektasikan asaku.
“apa ini!” pekikku.
Inderaku menyangsikan apa yang baru saja ditangkap mataku. Amplop putih itu berisi bulatan dan lembaran benda yang kuharapkan. Rupiah.
“ini uang kita, Jul. Tapi sekarang jadi uang kamu. Kamu nggak pernah cerita apa-apa ke kita, tapi kita tau semuanya. Kita semua sahabat sejak SD, dan kami pun sudah tahu tentang ini sejak dulu, Jul.” Jawab Rama, seraya mendekat ke arahku yang duduk tak jauh darinya.
“Iya, Juli. Hari senin kita UAS, Kamu kan anak berprestasi di sekolah, kamu sudah banyak mengharumkan nama sekolah kita. Uang ini pakai buat bayar SPP ya. Sayang kalau kamu berhenti di tengah jalan. ” Tambah Agus.
“hehehe, sori nih uangnya lecek, baru keluar dari celengan sih.” Jawab Ratih.
Gelombang asa yang tiba-tiba menghantamku, membuatku tergagu menghadapi semua rentetan takdir ini. Bibirku mengelu, menggumamkan sesuatu yang aku sendiri tak mampu menginterpretasikan. Lelehan suka-duka kembali membasahi pipiku yang masih berdebu. Aku menangis. Air mataku mengalir deras, sangat deras dan menjadi semakin tak terkendali. Aku melahap semua menu lezat yang dikaruniakan Tuhan. Senyum Emak sebagai hidangan pembuka, serta senyum sahabat-sahabat tercintaku sebagai hidangan penutup.
Tuhan, seporsi doaku telah kau jawab. Sepotong asaku telah Kau beri jalan. Terima kasih. Dan ternyata, masa sekolah bukan melulu tentang keletihanku, ada makna lain. Makna lain yang coba Kau ajarkan melalui senyum mereka.

tulisan ini diikutsertakan dalam lomba https://www.facebook.com/notes/desty-lilian-r-putry/event-ramadhan-menulis-sang-juara-bersama-gpm-amuntai/549386681773960

Senin, 10 Juni 2013

TENTANG AYAHKU

Posted by Unknown at 20.59 0 comments


Minggu, 9 Juni 2013

 Dia memang bukanlah seorang superhero hebat seperti superman, dia bukanlah superhero hebat yang juga sekaligus jutawan kaya raya seperti iron man. Dia bukanlah seorang presiden , dia bukanlah orang nomor satu di negeri ini. Dia bukanlah siapa-siapa, dia hanyalah seorang yang menakjubkan dan nomor satu di hatiku yang aku merasa sangat beruntung telah memilikinya. Dia lah ayahku yang hebat dan tak ada gantinya!

Dia memang tidak bisa terbang dan tidak memiliki kekuatan super seperti superman, juga bukanlah seorang jutawan kaya raya yang mampu menyelamatkan banyak orang seperti iron man yang menjadi pahlawan idolaku. Tapi dialah ayahku.seorang ayah yang telah merawatku dari sejak kecil, mengajariku tentang banyak hal, mendidikku dengan hal-hal yang baik, tak pernahia menunjukkan tentang hal-hal yang tak baik di hadapanku, karena aku tahu dialah ayah yang terbaik bagiku. Dia lah yang biasa aku panggil “Ayah” di rumah.

Ayahku yang menjadi guru dalam segala hal bagiku. Apapun  panggilannya, baik itu ayah, papa, abi, babeh, daddy, father atau apapun, dimana pun itu, panggilan-panggilan itu tetap memiliki arti yang sama yaitu seorang laki-laki yang akan selalu tetap tegar demi anak-anaknya dan dial ah yang terhebat. Dia yang akan selalu ada bagi keluarganya.

Ini adalah ceritaku tentang ayahku yang menginjak 15 tahun yang artinya kini aku sudah mulai beranjak dewasa, aku menyadari segala perjuangan yang telah dia lakukan untuk diriku dan aku tahu itu bukanlah hal yang mudah untuk berjuang selama hidupnya bagi istrinya dan juga anak-anaknya. Yang ia inginkan hanyalah dia dapat melihat keluarganya bahagia, juga satu-satunya harapan seorang ayah bagi anak-anaknya adalah agar dia kelak dapat tersenyum bangga dapat meyaksikan anaknya meraih kesuksesan dan mendapatkan percapaian terbaik dalam hidupnya. Mungkin seluruh hidup dari seorang ayah hanyalah untuk melihat anak-anaknya dapat berbahagia, mencapai kesuksesan, mendapatkan pencapaian terbaik dalam segala urusan kehidupannya dan lulus dengan nilai terbaik dalam pendidikannya. Tak perlu membalas seberapa banyak uang yang ia keluarkan bagi pendidikan kita, asalkan dia tahu bahwa kita sukses dan menjadi orang yang berguna. Itu semua sudah cukup untuk membayar pengorbanannya, sekali pun mungkin belum cukup, jangan lelah untuk berusaha dan berbakti pada ayahmu.

Berapa pun biaya yang harus dia keluarkan untuk anaknya, akan selalu dia perjuangkan untuk anaknya, asalkan dia bisa melihat anaknya bisa membanggakan dirinya. Berbakti pada seorang ayah bukanlah hal yang sulit, kita hanya perlu mendengarkan apa yang dia katakana tanpa harus membantahnya, mengikuti apa kata-katanya.

Aku adalah seorang anak yang benar-benar bangga memiliki ayah sepertimu, yang selalu tahu bagaimana membuat hal tak pernah menjadi serumit yang aku bayangkan, seorang ayah yang memiliki kesukaan aliran musik yang sama denganku, memiliki hobi yang sama denganku, seorang ayah yang jalan pikirannya tak mampu ditebak, seorang ayah yang selalu menciptakan tawa pada keluarga kecil ini, seorang ayah yang tak lelah berjuang bagi keluarganya, seorang ayah yang menyayangi istri dan juga anak-anaknya, seorang ayah yang bersedia meluangkan waktunya untuk mendengarkan banyak cerita dari anak-anaknya, seorang ayah yang selalu siap meluangkan waktunya untuk menyelesaikan hal-hal yang tak mampu aku, adikku, dan mama lakukan, seorang ayah yang luar biasa baik sangat hebat. Taks sama dengan lainnya, hebat dan menakjubkan!

Dalam setiap sholatku, tak pernah aku lupa untuk memanjatkan doa pada Allah,aku tak pernah lupa untuk menyelipkan namanya. Ya allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, kasihanilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku sejak kecil. Jika doa seorang ayah tak pernah putus untuk anaknya, mengapa tak kita lakukan juga? Doakanlah agar kebaikan selalu dilimpahkan dalam hidupnya, doakanlah agar Allah selalu memberinya keselamatan, doakanlah agar Allah selalu memberikannya kesehatan, limpahkanlah rezeki kepadanya, berkahilah kehidupannya dengan segala kebaikan, lancarkanlah segala urusan kehidupannya, tunjukanlah selalu jalan yang lurus kepadanya, semoga segala yang dilakukan olehnya dapat menjadi ibadah yang baik, segala amal dan ibadahnya diberkahi olehmu, ya Allah.

Bersyukurlah aku yang oleh Allah masih diberikan keberuntungan karena masih bisa bersama ayahku, ayah yang masih selalu ada di sampingku ketika aku membutuhkannya. Dari ribuan hari yang aku lewati bersama ayahku, aku selalu ingat, sejak kecil ayah suka sekali mengajakku pergi ke tempat-tempat dan memperkenalkanku dengan hal-hal baru di dunia ini.

Aku selalu ingat pertama kali ayahku mengajak menonton sebuah festival barongsai dib alai kota, saat itu usiaku baru 5 tahun dan itu adalah hal yang paling menyenangkan bagiku. Mungkin bagi yang lain ini hanyalah hal yang biasa, bukankah sangat sering ferstival semacam itu diadakan setiap tahunnya? Bukan intensitas sering atau tidaknya, tapi kualitas waktu yang kami berdua ciptakan. Ketika seorang ayah memberikan sebuah pengalaman baru bagi anaknya, itulah yang membuatnya menjadi sebuah kenangan yang lebih berkesan untuk diingat.

Ayahku yang sangat menyukai band The Beatles dan The Rolling Stones, yang tak jarang terlibat cekcok denganku karena selalu memutar lagu dari komputer dan handphone nya dengan volume yang sangat keras, terkadang mebuatku kesal, namun itulah yang menjadi ciri khas dari ayahku yang tak ada duanya ini. Kami memiliki banyak kesamaan, ketika kami menstimulus diri kami agar bisa tidur dengan memutar lagu kesukaan kami sebelum tidur hingga akhirnya kami tertidur lelap, aku selalu melakukannya seblum tidur dan begitu pun ayahku. Ini efektif bagi kami karena kami selalu berhasil tidur nyenyak setelahnya.

Kemudian, kesamaan yang lainnya yaitu kami berdua ketika sedang mendapatkan semangat untuk melakukan perkejaan seperti beres-beresrumah atau memperbaiki barang yang rusak, kami selalu semangat menggebu-gebu, tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan yang penting pekerjaan itu harus kami selesaikan hari itu juga, tak boleh di tunda-tunda lagi. Ayahku suka sekali membaca buku, buku yang banyak menginspirasi hidup kami. Banyak buku buku koleksinya di lemari, dan aku pun sangat menyukainya. Kami berdua pun termasuk orang yang tak suka terlalu sibuk dalam mengurus apa yang akan kami kenakan asal kami nyawan menggunakannya tentu saja tak jadi masalah bagi kami. Kami tak suka untuk terlalu pusing mengurusi hal yang sebenarnya bisa dengan mudahnya dilakukan.

Ini adalah sebagian kecil dari apa yang biasa aku lakukan dengan ayah, sebagian kecil kebiasaan kami dan apa yang ada pada diri kami. Semua hal yang ada pada diri kami. Semua hal yang ada pada diri kami tak pernah cukup untuk aku tuliskan disini, apapun yang terjadi, setiap hal tak mampu mengubah ini semua, DIA AYAH TERHEBAT DAN MENYAYANGINYA. Tulisan ini hanyalah sebagaian dari ungkapanku untuknya, karena sebanyak apapun kata-kata yang ada, aku yakin itu semua takkan pernah cukup untuk mewakili perasaan ini. Terima kasih telah menjadi ayah yang baik bagiku, ayah yang membuat aku percaya bahwa tak semua laki-laki itu menyebalkan dan tidak setia. Terima kasih banyak aku sayang ayah :”))

Sabtu, 08 Juni 2013

Seikat mawar

Posted by Unknown at 04.27 0 comments



Sosok Aisyah memandangi selembar foto keluarganya yang sempat ia genggam bersama seikat mawar. Sesaat gadis kecil itu diam terpaku, jatuh telungkup dengan kaki terpendam pasir serta bebatuan dari bangunan rumah yang disinggahinya. Tepat di daerah Malioboro, pagi itu. Pada akhir bulan Mei tahun 2006, beberapa daerah tiba-tiba dihancurkan oleh gempa 5,9 skala ritcher yang membabi buta.

Sebuah tangan menembus dari balik reruntuhan, dan Aisyah tahu benar siapa pemilik tangan yang menyembul keluar dari dalam reruntuhan itu. Sebuah cincin yang selalu melekat di jari manis seorang wanita yang sangat dikagumi dan dihormatinya. Tangan halus yang terbalut dengan balutan pasir, seolah menunjukkan sebuah tanda bahwa ibundanya berada di sana. Gemetar tubuh Aisyah saat menemukan posisi jasad ibundanya yang tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Ia menengadahkan kepala ke atas, tepat pada langit-langit rumah yang tengahnya telah berlubang. Lubang yang besar dan reruntuhan itu mengenai tubuh ibunya.”Allah, Aku ikhlaskan kepergian beliau, jadikan kematian ibuku khusnul khatimah aamiin.” Lalu disematkannya seikat mawar putih layu itu di tangan ibunya.
 

Desty Lilian Rosana Putri Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea